Teknologi Pemadatan Solusi Pemanfaatan Gambut

Malaysia punya cara untuk menjaga gambutnya tidak mudah terbakar di musim kemarau. Solusinya adalah teknologi pemadatan untuk mencegah api dan peningkatan produktivitas sawit. Dapat menjadi solusi bagi Indonesia yang sedang bekerja keras menjaga gambutnya. 

“Ketika berbicara gambut masih banyak persepsi negatif dalam bayangan masyarakat. Gambut di Indonesia bisa dimanfaatkan seperti di negara kami (Malaysia),” ujar Lullie Melling Director of Tropical Peat Research Laboratory Unit (TPRL) Malaysia ketika menemani rombongan media dan perwakilan GAPKI dalam kunjungan ke lahan gambut di Sarawak, pada akhir Februari.

Argumen Lullie Melling bukannya tanpa dasar. Dalam kunjungan ke Sarawak, Lullie mengajak rombongan ke perkebunan sawit yang berada di atas lahan gambut. Sebelum masuk ke perkebunan sawit milik Woodman Grup, peneliti asal Negeri Jiran mengajak rombongan ke lahan gambut liar. Di area ini terlihat asap putih mengepul di atas lahan gambut. Ini menunjukkan lahan gambut  baru saja  terbakar.  Ketika tanah digenggam ternyata masih basah.

Selanjutnya,  Lullie mengambil sampel tanah dengan kedalaman 0-50 centimeter (cm) dari permukaan tanah ternyata tanah masih basah. Dengan kedalaman makin ke bawah 50-100 cm semakin basah lagi. Dalam penjelasannya, tanah gambut tetap basar karena lubang pori sangat besar sehingga air tertahan di bawah permukaan.

Setelah itu, rombongan diajak ke perkebunan sawit milik Woodman Grup yang berada di atas lahan gambut. Menurut Lullie, di musim kemarau perkebunan sawit ini aman dari kebakaran. Kemampuan perusahaan mencegah kebakaran lantaran sudah menggunakan teknologi pemadatan untuk tanah gambut.

Ketika di Indonesia, Lullie berkeliling ke beberapa provinsi yang punya lahan gambut untuk  mempresentasikan teknologi pemadatan. Teknologi ini mengandalkan mekanisasi alat berat. Caranya, sebelum bibit sawit ditanam sebaiknya tanah gambut dibuat lebih padat dengan menggunakan ekskavator. Teknologi ini sarat dengan sistem mekanisasi yang mengandalkan ekskavator. Apabila ada pohon disarankan untuk dicabut supaya proses pemadatan lebih bagus. Supaya tanah padat, ekskavator akan bergerak sebanyak 5-6 kali

Lullie menjelaskan pemadatan ini bertujuan rongga tanah menyempit sehingga mempersulit api menjalar di bawah permukaan gambut. Dengan lubang pori yang kecil maka tanah tetap lembab karena air akan naik ke atas dan di saat musim kemarau air tidak mudah turun.

Dalam kunjungan lapangan ini, Lullie Melling didampingi dua pakar gambut: Prof. Hisao Furukawa, Guru Besar Ekologi Hutan Universitas Kyoto Jepang, dan Dr. Basuki Sumawinata, Pakar Gambut Institut Pertanian Bogor.

Hisao Furukawa menjelaskan bahwa pengelolaan gambut  yang benar bergantung kepada pengelolaan tata air (water management) dan pemadatan tanah untuk pencegahan gambut dari kekeringan dan subsidensi.

Dari pengalaman Hisao yang selama 36 tahun lebih datang dan meneliti   kawasan gambut di seluruh dunia termasuk Indonesia pada kenyataannya tidak ada masalah dalam pemanfaatan gambut.

Dia menilai bahwa pengelolaan gambut di Indonesia menempati posisi terdepan seperti yang diamatinya dari beberapa korporasi di Indonesia.  Sejumlah perusahaan mengelola gambut yang terdegradasi dengan bertanggung jawab.

Ditambahkan  Lullie, lahan  gambut yang terdegradasi lebih baik dikelola untuk kegiatan produktif agar tidak semakin rusak. Dalam hal ini, pemerintah seharusnya  mendukung kegiatan pengelolaan gambut.

Lullie menjelaskan dengan pemilihan teknologi gambut yang tepat sejatinya  lahan dapat digunakan untuk berbagai kepentingan semisal mengubah kawasan yang terdegradasi lahan pertanian yang subur. “Di negara kami, lahan gambut bisa ditanami kelapa sawit untuk menghasilkan pendapatan dan berkontribusi bagi perekonomian kami,” imbuhnya.

(Lebih lengkap baca Majalah SAWIT INDONESIA Edisi 15 Maret-15 April 2016)

Lullie menyebutkan dengan teknik pemadatan bertujuan lebih mudah untuk mengontrol air. Sehingga dengan  tanah yang dipadatkan dapat meningkatkan produksi sawit.  Ini terbukti pada lahan yang tidak dipadatkan, produktivitas buah sawit 15 ton per ha per tahun. Apabila teknologi dipadatkan maka produksi sawit bisa naik menjadi 25 ton per hektar per tahun.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Hi there! Click one of our representatives below and we will get back to you as soon as possible.

Customer Services on WhatsApp