Setelah Terpuruk, Produksi CPO 2017 Bergerak Naik

Produksi CPO global tahun 2017 diperkirakan mencapai 65,24 juta ton berdasarkan data Oil World. Dari jumlah tadi, produksi sawit Indonesia sebanyak 35 juta ton dan Malaysia menghasilkan produksi 20,5 juta ton. El Nina membawa pengaruhpositif kepada  perbaikan produksi.

Di hadapan 300 peserta Palm Oil Trade Fair and Seminar 2016, di Kuala Lumpur,  presentasi Thomas Mielke dibuka dengan menunjukkan data produksi CPO tahun 1960-1962. Dalam data tersebut terlihat data produksi dunia sempat turun dari 559 ribu ton pada 1961 menjadi 530 ribu ton pada 1962.

Penurunan produksi di era 1960-an kembali terulang pada tahun ini. Pengaruh El Nino yang mulai terjadi pada 2014 dan terus berlanjut pada tahun 2015. El Nino adalah cuaca panas dari lautan Pasifik Timur yang membawa udara kering ke wilayah negara-negara Asia Tenggara. Iklim kering inilah yang membuat rendemen produksi menjadi turun.

Efek iklim kering sangat terasa di perkebunan sawit  Indonesia maupun Malaysia. Thomas Mielke , pemilik lembaga data dan riset komoditas OilWorld, mengatakan anjloknya produksi dunia dipengaruhi dari Indonesia dan Malaysia sebagai produsen utama sawit dunia.   Akibatnya produksi sawit di seluruh dunia anjlok menjadi 59,24 juta ton pada tahun ini.

Di Malaysia, merujuk kepada perhitungan Dorab Mistry, analis harga Godrej International produksi sawit turun sekitar 2,1 juta ton. Tahun lalu produksi masih di angka 19, 8 juta ton tetapi turun menjadi 17,6 juta ton pada 2016.

Dampak terberat El Nino paling dirasakan Indonesia. Iklim kering menekan volume produksi 3,5 juta-4 juta ton. Tahun ini produksi sawit diperkirakan 29 juta ton lebih rendah dari tahun sebelumnya 32 juta ton. “Total produksi sawit di seluruh dunia akan turun 6 juta ton pada tahun,” kata Mistry ketika menyajikan presentasinya di POTS 2016.

Berbeda dengan Mistry, Oil World memperkirakan produksi sawit Indonesia turun 1,2 juta ton pada 2016. Malaysia merosot produksi sawitnya sebanyak 2,2 juta ton.

Indikator penurunan produksi sudah kelihatan dari semester kedua 2015. Hasril Siregar, Direktur Pusat  Penelitian Kelapa Sawit, mengatakan pertengahan tahun 2015 banyak perkebunan sawit di Indonesia yang mengalami  aborsi dan gagal tandan berkembang menjadi buah yang dapat dipanen. Alhasil, produksi sawit semester pertama tahun ini anjlok 3,5 juta ton dari periode sama tahun lalu.

“Selama cekaman kekeringan dan defisit air ini mengganggu serapan unsur harga yang berpengaruh kepada produksi,” ujar Hasril.

Dari awal tahun 2016, Joko Supriyono, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, sudah memprediksi produksi sawit di bawah angka 32 juta ton akibat pukulan berat dari  El Nino. Berdasarkan data asosiasi, produksi sawit semester pertama sebanyak 12,36 juta ton.

James Fry, Analis LMC International, menyebutkan di luar faktor El Nino yang sangat kuat untuk menekan produksi. Melambatnya produksi ini disebabkan pula rendahnya penambahan lahan untuk area tanaman menghasilkan (mature area).

“Tidak kondusifnya iklim investasi sawit juga berpengaruh terutama pemberlakuan moratorium gambut untuk perkebunan sawit,” kata Joko Supriyono.

Produksi sawit tumbuh

Berakhirnya El Nino menciptakan momentum perbaikan produksi. Membaiknya produksi sudah dimulai semester kedua 2016 sampai tahun depan.  Pengaruh  El Nina, cuaca dingin dari Lautan Pasifik Timur membawa awan hujan ke kawasan Asia Tenggara, membawa berkah bagi perkebunan sawit di Indonesia dan Malaysia. Lantaran, kebutuhan air tanaman sawit dapat tercukupi. Tanaman sawit minimal butuh curah hujan 100-200 mm per bulan.Dapat terlihat   curah hujan berjalan di atas normal untuk tahun ini.

Hasril Siregar mengakui  produksi membaik karena cekaman kekeringan tidak separah tahun lalu bahkan pada 2016 terjadi kemarau basah. Ini berarti tanaman mendapatkan air yang cukup dan penyinaran matahari. Di sisi lain, tindakan kultur teknis terutama pemupukan berlangsung dengan baik sehingga panen untuk produksi berjalan maksimal tahun ini.

“Yang perlu diingat, dampak utama dari cekaman kekeringan terjadi dalam jangka waktu enam bulanan dan 24-36 bulan,” kata Hasril kepada SAWIT INDONESIA dalam layanan pesan WhatsApp.

Thomas Mielke menyebutkan suplai minyak sawit global tetap terbatas dari Oktober 2016 sampai Maret 2017. Produksi sawit Indonesia diperkirakan naik menjadi 35 juta ton dan Malaysia sebesar 20,5 juta ton. Dengan begitu terjadi rebound produksi sawit dunia antara 5,7 juta-6,3 juta ton sepanjang tahun 2017.

(Ulasan lebih lengkap silakan baca Majalah SAWIT INDONESIA Edisi 15 Oktober-15 November 2016)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.