Kran Impor Benih Tetap Terbuka

Pemerintah tetap memberikan kesempatan benih sawit impor untuk masuk ke Indonesia. Kalangan produsen mengharapkan kemudahan dari sesama negara ASEAN.  

Dwi Asmono, Ketua Forum Kerjasama Produsen Benih Sawit, menjelaskan semangat bahwa perdagangan bebas di kawasan AsiaTenggara seharusnya menjadi perhatian Kementerian Pertanian terutama perdagangan benih sawit. Regulasi yang dibuat pemerintah harusnya bersifat melindungi perusahaan dalam negeri. Tetapi yang  terjadi sekarang ini adalah pemerintah memberikan karpet merah kepada investasi asing benih sawit.

Terdapat dua beleid  yang mempermudah ini terdapat dalam  Peraturan Menteri Pertanian Nomor 61/2011 mengenai Pengujian, Penilaian, Pelepasan, dan Penarikan Varietas. Satu lagi adalah Peraturan Menteri Pertanian Nomor 50/2015 tentang Produksi, Sertifikasi, Peredaran, dan Pengawasan Benih Tanaman Perkebunan.

“Dua permentan tadi  semangatnya mempermudah investasi. Dari pelepasan varietas terlihat simplifikasinya,” kata Dwi Asmono.

Kemudahan yang dimaksud adalah pelepasan varietas cukup melewati tahapan uji observasi di Permentan 61/2011. Sedangkan di Peraturan Menteri Pertanian No 37/Permentan/OT.140/8/2006 Tentang Pengujian, Penilaian, Pelepasan Dan Penarikan Varietas mensyaratkan uji pelepasan varietas minimal  berlangsung di 2 lokasi.

Menurut Dwi Asmono sepanjang kriteria observasi relatif memenuhi persyaratan ini berarti lebih mudah untuk dirilis. Syarat ini berlaku kepada varietas tanaman yang dimuliakan di dalam dan luar negeri.  Dua permentan yang mengatur peredaran varietas sangat terbuka kepada investasi perbenihan sawit termasuk  distribusinya di Indonesia. Berbeda dengan Malaysia yang tidak mudah untuk membuka pasar  benihnya kepada negara lain termasuk distribusi.

“Untuk  memasukan planting material harus ada ijin dari pemerintah dari Malaysia semacam ijin impor benih kalau di sini. Dan itu tidak mudah bagi produsen kita. Isu ini sempat dibahas bersama dalam  Bilateral Working Grup Indonesia dan Malaysia. Tetapi belum tahu kelanjutannya,” ucap Dwi.

Bambang, Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, menjelaskan bahwa pihaknya punya peranan untuk membina di industri benih sawit. Walaupun terjadi oversuplai, belum ada rencana untuk menutup sementara masuknya benih dari luar negeri. “Ada baiknya pihak produsen membuat perencanaan terhadap industri benih itu. Selain itu, masih ada peluang replanting benih sawit dari program BPDP,” jelasya.

Dudi Gunadi, Plt Direktur  Perbenihan Kementerian Pertanian menambahkan pemerintah tetap membuka kesempatan benih dari negara lain untuk masuk ke Indonesia. Situasi sekarang menjadi tantangan produsen benih dalam memberikkan kualitas dan pelayanan  unggul. “Persaingan itu biasa. Setiap industri pasti bersaing termasuk benih. Tugas pemerintah ingin menghadirkan benih unggul dengan harga kompetif,” jelasnya.

Dalam pandangan Dwi Asmono, dengan semangat perdagangan bebas ASEAN sebenarnya persaingan itu memang wajar. Persoalannya adalah komitmen sesama anggota ASEAN untuk membuka akses benih dari luar negaranya. “Harus ada aturan yang setara. Ketika  aturan kita  memungkinkan sumber material tanaman dari luar masuk dengan mudah. Apakah perlakuan sama bisa terjadi di negara lain,” pinta Dwi.

Itu sebabnya, Kementerian Pertanian dan kementerian terkait lainnya aktif  melobi negara lain supaya ada perlakuan sama. Andaikata ada semangat keterbukaan bersama, kata Dwi, maka produsen benih nasional  punya peluang sama untuk memasarkan produknya di negara-negara ASEAN.(Qayuum Amri)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.