Indonesia Lobi Bea Masuk Sawit India

Lesunya ekspor sawit di tahun ini akibat tingginya bea masuk ke India. Pemerintah berupaya melobi pemerintah India untuk mempermudah ekspor.

Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), India mencatatkan impor CPO dan hilir turun sebesar 31% menjadi menjadi 240,16 ribu ton pada Mei 2018. Mukti Sardjono, Direktur Eksekutif GAPKI, mengatakan pasar India yang sudah tergerus lebih dari 50% dari sejak awal tahun yang juga turut berkontribusi menyebabkan stok minyak sawit di Indonesia dan Malaysia menjadi tinggi karena susutnya pembelian yang sangat signifikan.

Saat ini, pengapalan sawit ke India terkena bea masuk minyak nabati untuk minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dari 30 persen menjadi 44 persen dan pajak refined palm oil naik dari 40 persen menjadi 54 persen. Bagi Indonesia, pasar sawit India menempati urutan pertama dalam beberapa tahun terakhir. Penjualan minyak sawit Indonesia ke India dapat mencapai 7 juta ton lebih. Itu sebabnya, penerapan bea masuk ini memukul perdagangan ekspor non migas.

Alasan pemerintah India membebani tarif impor sawit untuk melindungi petani mereka. Di sisi lain, India ingin mengurangi defisit perdagangan dengan Indonesia. Menko Darmin Nasution mengakui, “ bea masuk ini bagian politik perdagangan. Sebab,  ekspor sawit kita banyak masuk ke sana, sehingga terjadi defisit besar. Jadi mulai cari bagaimana caranya (dengan menaikkan bea masuk).”

Pemerintah telah berupaya menegosiasi India untuk menurunkan pajak masuk. Pada akhir Mei 2018, Presiden Jokowi telah meminta Perdana Menteri Narendra Modi untuk menurunkan tarif bea masuk sawit. Kendati demikian,  PM Modi akan meninjau pengenaan tarif tersebut.

Upaya melobi juga dilakukan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian di bawah komando Darmin Nasution. Lobi ini melalui sejumlah asosiasi bisnis minyak nabati di India.  Pada pertengahan Juli 2018, telah ditandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), Solvent Extractors Association (SEA) India, dan Solidaridad Network Asia Limited (SNAL) dalam pertemuan tingkat tinggi di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta.

MoU ini menegaskan keberadaan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan India National Palm Oil Sustainability Framework (IPOS) sebagai kerangka keberlanjutan dalam produksi minyak sawit dan perdagangan antara kedua negara.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution berharap kerjasama antara SEA, DMSI, dan SNAL akan memperkuat hubungan Indonesia dan India di bidang pertumbuhan minyak nabati dan turunannya.

“Kolaborasi ini akan berlanjut lama dan menjadi solusi menguntungkan bagi kedua negara, yang juga sejalan dengan komitmen pemimpin kedua negara,” terang Darmin.

Senada dengan Menko Darmin, Presiden Solvent Extractors Association (SEA) India, Atul Chaturverdi menuturkan MoU ini akan membuka jalan bagi keberlanjutan sektor perdagangan minyak sawit yang berkelanjutan dalam jangka panjang di kawasan Asia.

“Saya yakin bahwa sinergi antara ISPO dan IPOS secara bersama-sama akan melindungi daya saing industri kelapa sawit, meningkatkan kesiapan menghadapi permintaan pasar di masa depan, dan memenuhi komitmen nasional terhadap produksi dan perdagangan kelapa sawit yang berkelanjutan,” tutur Atul.

Seperti diketahui bahwa Indonesia saat ini merupakan produsen kelapa sawit terbesar dunia dengan area sekitar 14,3 juta ha dan produksi sekitar 40 juta ton. Kelapa sawit merupakan sumber minyak nabati yang berkontribusi dalam pemenuhan kebutuhan konsumsi masyarakat, baik dalam bentuk minyak goreng dan produk hilir lainnya, maupun dalam bentuk bioenergi (biofuel).

Penandatanganan MoU ini disaksikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Naution, Managing Director Solidaridad Network Asia Limited (SNAL) Dr. Shatadru Chattopadhayay, Presiden Solvent Extractors Association (SEA) India Atul Chaturvedi, serta perwakilan dari Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Luar Negeri dan Kementerian / Lembaga (K/L) terkait, dan Perusahaan minyak sawit India.

Selain penandatanganan MoU, para delegasi juga mendiskusikan sejumlah isu yang berkaitan dengan masalah perdagangan Minyak Sawit Indonesia-India; sinergi Kerangka Keberlanjutan ISPO dengan IPOS; serta pengembangan roadmap kerja sama ke depannya.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Hi there! Click one of our representatives below and we will get back to you as soon as possible.

Customer Services on WhatsApp