Dari Penebang Liar Jadi Penyelamat Hutan

Jalan hidup memang tidak dapat diduga. Matius Amat (54), yang sejak kecil sudah akrab dengan kehidupan hutan, ternyata tidak bisa lepas keterikatannya dengan hutan hingga sekarang.

Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan dan modal pendidikan yang minim, Matius memilih menjadi penebang kayu hutan, sebagai satu-satunya profesi yang bisa dikerjakaan untuk tetap bertahap hidup, karena masih bersinggungn dengan hutan.

Tugasnya adalah sebagai penebang sekaligus penadah kayu hutan. Matius mulai menebang kayu dari tahun 2003-2009. Bermodal tekad dan perkakas sederhana, dia memberanikan diri mengambil kayu di hutan meskipun menghadapi ancaman binatang buas, serta pengejaran pihak kepolisian. Jika melihat gerak-gerak pihak berwajib, ia akan siap sedia bersembunyi di pedalaman hutan sampai mereka pergi.

Pada awalnya menjadi penebang dan penadah kayu hutan, Matius mengaku mendapatkan penghasilan besar sekitar Rp 600 ribu per meter kubik, dari menjual kayu jenis merantai dan ulin. Dari situ, ia bisa menjual sekitar 10 meter kubik per hari, kepada tiap orang yang hendak menggunakannya sebagai bahan baku pembuatan rumah dan perkantoran di sekitar Ketapang.

“Tiap meter kubik yang dijual bisa mendapatkan untung bersih sekitar Rp 60 ribu. Kadang-kadang saya mendapatkan bahan kayu dari orang-orang di Ketapang bahkan sampai Pontianak,” kata Matius dalam perbincangan dengan Sawit Indonesia di Ketapang, Kalimantan Barat, awal September lalu.

Namun, pada tahun 2010, ia memutuskan keluar dari pekerjaan rutin sebagai penebang kayu dan memilih mencari pekerjaan lain. Keputusan tersebut dipilih lantaran persediaan kayu di hutan menurun dan terjadi alih fungsi lahan hutan. Hal ini mempengaruhi pemasukannya dari menebang kayu hutan, menjadi turun drastis.

Dengan kondisi pekerjaan yang tak menentu, dia tetap semangat dan pantang menyerah. Peruntungannya mulai membaik tatkala PT Kayung Agro Lestri menarik warga lokal untuk membantu pembangun perusahaan itu. Setelah menyelesaikan tugasnya, ia kembali ditarik sebagai penjaga alat-alat berat perusahaan, kemudian menjadi kontraktor perusahaan sampai akhirnya menjadi penjaga area konservasi.

Matius tidak sendiri, ada delapan orang mantan penebang kayu lainnya yang direkrut oleh PT Kayung Agro Lestari. Wahyu (23) misalnya, telah empat tahun menjadi penjaga area konservasi demi menyambung kehidupan ekonomi kedua orang tuanya, serta untuk menyetop pembalakan liar di Kalimantan Barat, yang sempat dilakukan oleh ayah-ibunya dulu.

“Waktu itu bapak saya juga sempat menjadi pembalak liar, saya membantu mengangkat kayunya dan membersihkan kayu yang tidak terpakai. Kalau sekarang mereka tidak bekerja itu lagi,” jelas lelaki bujang tersebut.

Tiap minggu, wahyu bersama rekannya yang lain bertugas menjaga hutan selama tujuh jam kerja dari pukul 7 pagi. Guna memperketat keamanan area konservasi, penjagaan dibagi menjadi dua sesi yaitu pagi dan sore. Mereka juga dibantu oleh dua staf konservasi PT Kayung Agro Lestari untuk mengamankan daerah itu dari pembalakan liar maupun pencurian flora dan fauna hutan.

Menjadi penjaga area konservasi bukanlah pekerjaan mudah. Selain menjaga keamaan area konservasi dari tangan-tangan jahil manusia, mereka mesti menjaga ekosistem flora dan fauna yang ada di area High Conservation Value (HCV) seluas 657 hektare, yakni terletak dalam kawasan PT Kayung Agro Lestari, dengan melakukan penanam dan pemeliharaan tumbuh-tumbuhan di sana.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.