Teknologi Aplikatif Kekinian Cara Cepat Pengomposan TKKS Oleh: Departemen Riset & Pengembangan PT MSA

Kompos tandan kosong kelapa sawit (TKKS) memiliki manfaat yang besar untuk meningkatkan kesehatan dan kesuburan tanah.  Pemberian kompos TKKS di lapangan mampu menyediakan bahan C organik yang diperlukan dan menjadi cadangan makanan bagi mikroba seperti jamur bermanfaat (al. Trichoderma sp., dll), bakteri bermanfaat (Azotobacter, dll), dan cacing tanah. Kompos TKKS juga mampu meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun unsur hara mikro oleh tanaman.  Dengan demikian kompos TKKS mampu menciptakan ekosistem yang harmonis di dalam tanah, sehingga dengan sehat dan suburnya tanah maka tekanan serangan jamur patogen seperti Ganoderma yang akhir-akhir ini makin mengancam populasi tegakan di perkebunan kelapa sawit, dapat dicegah.

Selama ini metode dan proses pengolahan kompos dari TKKS belum memberikan kepuasan bagi praktisi perkebunan sawit.  Hal tersebut menyangkut waktu proses pengomposan masih dirasakan lama (rata-rata waktu pengomposan TKKS selama ini memakan waktu di kisaran 1-2 bulan) dengan parameter ukur hasil pengomposan TKKS adalah CN Ratio dan rendemen kompos yang dihasilkan.

Perlu diketahui bahwa faKtor-faktor yang mempengaruhi proses pengomposan antara  :

  1. Ukuran partikel bahan
  2. Suhu
  3. Kelembaban
  4. Jenis dekomposer yang digunakan (apakah berbasis bakteri ataukah jamur)
  5. Kondisi pengomposan (apakah pada kondisi aerob atau an-aerob)
  6. Dengan proses aerasi atau tanpa aerasi

Harapan dari praktisi perkebunan kelapa sawit terkait pengomposan TKKS umumnya adalah proses pengomposan TKKS dapat dilakukan secara  cepat, mudah dan murah.

Dari harapan itulah Departemen Riset & Pengembangan PT MSA melakukan riset guna memenuhi harapan tersebut.  Salah satu cara untuk mempercepat proses pengomposan adalah melakukan rekayasa bio-engineering dan teknologi.

Dari pengalaman yang kami peroleh di lapangan umumnya pengomposan TKKS menggunakan bahan TKKS utuh tanpa pencacahan; menggunakan decomposer berbasis jamur termofilik dan atau berbasis bakteri terutama bakteri yang berasal dari POME (Palm Oil Mill Effluent); pengomposan dilakukan pada kondisi lembab (pada kadar air minimal 60%); kondisi dilakukan umumnya anaerob (menggunakan terpal plastik sebagai penutup tumpukan TKKS); serta tanpa dilakukan aerasi.

Berdasarkan hasil pengalaman di lapangan dan pengamatan ternyata bahwa suhu pengomposan TKKS dengan menggunakan dekomposer berbasis jamur termofilik rata-rata suhu tertinggi (70 0C) dicapai setelah usia pengomposan 1 minggu yang diindikasikan munculnya miselia dari jamur termofilik yang akan mengubah biopolymer seperti selulosa, hemiselulosa dan lignin menjadi komponen monomer-monomernya. Secara gradual suhu tumpukan TKKS menurun dan berhenti di kisaran suhu 300c-40 0c; dengan berhentinya suhu di kisaran itu maka proses pengomposan dihentikan; dan dengan ditandai tinggi tumpukan  susut di kisaran 30%-40 %.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Hi there! Click one of our representatives below and we will get back to you as soon as possible.

Customer Services on WhatsApp