Sistem Double Knock Alternatif Pengendali Gulma

Pekebun disarankan memakai sistem double knock untuk melawan resistensi gulma. Walaupun sudah banyak petani mengaplikasikan sistem ini, sayangnya baru sebatas berganti-ganti merek.

Gulma merupakan hama yang harus ditanggulangi dengan tepat, jika tidak kehadirannya mampu menggangu tanaman utama yang dibudidayakan. Tak terkecuali di perkebunan sawit, keberadaan gulma mampu menganggu produktivitas karena harus bersaing guna mendapat cahaya matahari dan nutrisi dari tanah.

Di perkebunan sawit, penanganan gulma dapat dilakukan mulai dari tahap nursery. Soekisman Tjirosemito, Ketua Weed Science Society of Indonesia dalam Seminar Weed Resistance Management  mengungkapkan bahwa manajemen gulma di kebun sawit harus dilakukan sedini mungkin untuk memastikan tanaman dapat tumbuh dengan maksimal.

”Di sawit kita bisa mulai pertama di fase nursery yang bukan hanya bertujuan agar tanaman baik namun juga agar tnaman punya energi yang cukup untuk bertumbuh. Meski demikian pengunaan herbisida di tahap nursery harus hati-hati agar tak menghilangkan sifat genetik dari tanaman,” jelas Soekisman.

Selanjutnya menurut Soekisman penanganan gulma mampu dilakukan dalam tahap land preparation, yang selain mampu menggunakan herbisida dapat ditambahkan pengunaan Legume Cover Crop (LCC) sebagai musuh alami gulma.

Khusus untuk pengunaan herbisida, Soekisman juga menekankan untuk mengikuti petunjuk penggunaan yang disediakan oleh produsen herbisida. Sebab ia menilai selama ini menurutnya, penggunaan herbisida di Indonesia selama ini masih buruk sehingga hasil yang didapatkan masih belum optimal.

Dadang, Secretary Regional International Society for South East Asian Agriculture Sciences mengungkapkan bahwa pengunaan herbisida paling banyak dilakukan untuk sektor perkebunan dibanding sektor pertanian khususnya di perkebunan sawit.

“Penggunaan herbisisa di perkebunan sawit merupakan jumlah yang terbesar ,ada sekitar 850 merek herbisida yang dipergunakan di perkebunan sawit. Sedangkan yang lain di perkebunan karet ada 366 merek, dan perkebunan kakao 143 merek,” jelas Dadang dalam kesempatan yang sama.

Namun sayangnya menurut Dadang dari masifnya penggunaan herbisida di sektor perkebunan, khususnya di perkebunan sawit hanya jenis sedikit golongan herbisida yang digunakan. Pada 2014 dari 639 merek herbisida yang terdaftar di Indonesia 93,7 persen hanya berasal dari empat kelompok besar yaitu Bipirilidium, Glisin, Peroksida, dan Urea.

“Artinya, kalau yang  dipergunakan hanya dari golongan yang itu-itu saja hama gulma juga akan resisten terhadap herbisida. Oleh karenanya perlu penanangan gulma yang dilakukan secara terpadu,” tambah Dadang.

Stephen Powels, Profesor dari University of Western Australia yang turut hadir di dalam seminar juga mengungkapkan salah satu cara guna mengurangi resistensi gulma adalah dengan sistem double knock atau sistem rotasi dalam aplikasi herbisida.

Misalnya dalam tahun pertama digunakan herbisida berbahan aktif paraquat, sedangkan untuk tahun berikutnya digunakan herbisida berbahan aktif glifosat.  Stephen mengungkapkan dengan sistem double knock maka gulma yang biasanya memiliki resistensi dalam waktu 10 tahun penggunaan herbisida yang homogen mampu diperpanjang hingga 30 tahun.

Meski demikian, Stephen mengakui tingkat resistensi gulma di Indonesia sendiri masih sangat rendah dibandingkan beberapa negara  lain seperti Amerika, Argentina, dan Australia. Sebab menurutnya tak seperti tiga negara tadi, Indonesia masih memiliki keanekaragaman hayati yang baik.

“Indonesia bukan salah satu negara yang memiliki tingkat resistensi gulma yang tinggi karena Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki diversity yang baik. Karena gulma banyak tumbuh di lahan yang besar dan dengan sedikit diversity,” ungkap Stephen.

Petani di Indonesia menurut Dadang juga telah menerapkan sistem double knock untuk penggunaan herbisida. Namun dituturkan Dadang, sistem double knock masih diaplikasikan sebatas penggantian merek herbisida.

“Karena double knock ini bukan hanya mengganti merek herbisida tapi mengganti sistem kerja, misalnya yang satu memengaruhi otak, yang satu lagi memengaruhi kulit itu kan berbeda cara kerjanya.Nah di masyarakat, banyak hanya mengganti merek dagang. Padahal merek dagang itu cara kerjanya sama, ya tidak akan mengubah apapun,” jelas Dadang.

(Lebih lengkap baca Majalah SAWIT INDONESIA Edisi 15 Februari – 15 Maret 2016)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Hi there! Click one of our representatives below and we will get back to you as soon as possible.

Customer Services on WhatsApp