MIKROBA SEBAGAI SENJATA BIOLOGI PERANGI GANODERMA Oleh : Henny Hendarjanti ‎(Plant Protection Department at PT. Astra Agro Lestari Tbk)

Patogen Tular Tanah Yang Mematikan Pada Kelapa sawit

Ganoderma boninense merupakan cendawan patogen yang menyebabkan penyakit busuk pangkal batang (BPB) pada tanaman kelapa sawit. Penyakit ini masih menjadi momok bagi dunia perkebunan kelapa sawit di Indonesia dan Malaysia. Sifatnya sebagai patogen tular tanah yang mempunyai kemampuan sebagai parasit fakultatif yang sangat luas dan saprofitik yang sangat tinggi. Di samping itu, kemampuannya dalam mendegradasi lignin sangat tinggi sehingga dapat mematikan tanaman yang terinfeksi oleh inokulumnya.

Keberadaannya mengancam kelapa sawit baru yang ditanam pada areal endemik tanpa suatu perlakuan apapun. Hal ini karena ganoderma memiliki beberapa macam struktur patogen untuk bertahan hidup seperti miselia resisten, basidiospora dan klamidiospora, sehingga tidak kesulitan untuk mendapatkan makanan untuk membangun inokulum yang cukup banyak sehingga mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya  dan menginfeksi tanaman.

Sampai saat ini penyakit busuk pangkal batang sulit untuk dikendalikan. Bila kita menggunakan fungisida ada kemungkinan tidak efektif karena sifat fisika dan kimia tanah terdegradasi sebelum mencapai sasaran, selain memiliki beberapa alat pertahanan untuk hidup serta mempunyai kisaran inang yang luas. Upaya  tindakan pencegahan melalui pengendalian hayati yang dimulai sejak pembibitan dan penggunaan tanaman toleran menjadi alternatif pengendalian yang berpeluang baik dan merupakan strategi pengendalian penyakit BPB  paling menjanjikan dengan menerapkan secara terpadu dengan pengendalian secara kultur teknis.

 

Prospek Mikroba Sebagai Pengendali Hayati Ganoderma

Melihat Ganoderma sebagai patogen tular tanah yang sangat fenomenal dengan segala kekuatannya, menjadikan arah berpikir pengendalian melalui pendekatan untuk mencari sisi kelemahan patogen dan usaha pengendalian secara hayati dengan memanipulasi lingkungan, rotasi tanaman, bahan organik dan perlakuan untuk perbaikan tanah. Kunci keberhasilan dalam pengendalian hayati adalah pemahaman akan pengetahuan mengenai interaksi ekologis organsme dalam tanah, perakaran bagian tanaman diatas tanah dan lingkungannya. Interaksi tersebut membentuk suatu keseimbangan biologi yang dinamis. yang merupakan keseimbangan biologi dari komunitas spesies organisme dalam suatu ekosistem yang selalu mengalami perubahan.

Kejadian dan keparahan infeksi penyakit BPB meningkat , terutama pada areal pertanaman yang terus menerus dibudidayakan satu jenis tanaman. Monokultur kelapa sawit sepanjang tahun memang tidak dapat dihindari, hal ini juga menyebabkan kondisi lahan yang jenuh dengan bahan kimiawi akibat perlakuan agronomis yang secara tidak langsung akan mengurangi jumlah mikroorganisme yang ada didalam tanah.

Suatu agen pengendali hayati dapat berfungsi dengan satu atau lebih mekanisme antagonisme terhadap patogen, misalnya cendawan Trichoderma sp. maupun Gliocladium sp dapat mematikan atau menghancurkan hifa cendawan patogen dengan mengeluarkan satu macam atau lebih antibiotik atau enzim, disamping itu bersifat hiperparasit dengan melilit hifa patogen sebagai inang, kemudian hidup dan berkembang pada sel inang yang telah mati dan memiliki daya saing tumbuh yang luar biasa. Mikoriza juga termasuk agens pengendali hayati bagi cendawan patogen tular tanah karena mikoriza berasosiasi erat dengan membentuk penghalang bagi penetetrasi patogen, sekaligus membantu akar untuk menyerap hara dan dapat memproduksi senyawa toksik bagi patogen, membentuk penghalang pada dinding sel akar terhadap penetrasi patogen yang masuk atau menginduksi ketahanan tanaman.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.