Sawit Membangun Indonesia dari Pinggiran

Salam Sawit Indonesia,

Konsep membangun dari pinggiran, kalimat ini  diperkenalkan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam program nawacita. Realisasi program ini adalah pembangunan tidak lagi terpusat di wilayah perkotaan tetapi mengedepankan wilayah pinggiran maupun daerah perbatasan. Pembangunan infrastruktur seperti jalan raya, waduk, sampai kepada kawasan industri dibidik kepada wilayah tertinggal. Tujuannya jelas, mendistribusikan kesejahteraan kepada masyarakat di luar Pulau Jawa.

Bagi pelaku industri sawit, konsep membangun dari pinggiran telah diusung perkebunan sawit melalui penciptaan lapangan kerja dan menciptakan sentra ekonomi baru di wilayah pedalaman. Itu sebabnya, kita dapat melihat sekolah, pasar, dan akses jalan raya yang terbangun setelah perkebunan sawit beroperasi. Diperkirakan jumlah kabupaten yang perekonomiannya mengandalkan sawit mencapai 190 kabupaten. Untuk itu, pemerintah tidak bisa meninggalkan kelapa sawit bahkan menghambatnya dengan pertimbangan kemampuan industri ini menggerakkan roda ekonomi daerah.

Rubrik Sajian Utama edisi ini mengulas peranan Tunas Sawa Erma Grup dalam pembangunan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat di Papua melalui perkebunan sawit. Kegiatan perusahaan yang telah beroperasi 20 tahun lebih ini memberikan manfaat luar biasa dalam pengentasan kemiskinan maupun pembukaan lapangan kerja. Perusahaan sangatlah serius menerapkan tata kelola sawit yang berkelanjutan dengan menjalankan prinsip dan kriteria Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Hingga awal tahun ini, perusahaan tercatat sebagai satu-satunya perusahaan yang mengantongi sertifikat ISPO. Bukanlah perkara mudah mendapatkan ISPO karena tantangannya luar biasa mengikuti prinsip dan kriteria ISPO.

Dalam Rubrik Hot Issue, kami mengangkat solusi dan strategi menghadapi Resolusi Sawit yang diusulkan Parlemen Uni Eropa kepada Komisi Tinggi. Semua kalangan sepakat bahwa resolusi ini tidak menguntungkan posisi Indonesia bahkan cenderung menjatuhkan industri sawit. Kalangan petani bahkan mendesak tindakan boikot produk dari Eropa seperti pertanian dan alat transportasi andaikata resolusi benar-benar disahkan. Dari kalangan pemerintah telah dijalankan penguatan diplomasi melalui kerjasama antar negara produsen untuk menyampaikan keberatan atas putusan parlemen Eropa ini.

Pembaca, kami harapkan edisi ini memberikan warna baru kepada industri sawit di dalam negeri. Harapannya, setiap informasi semakin memperkuat keyakinan dan kesadaran kita akan pentingnya posisi industri sawit nasional. Selamat membaca.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.