Tanoto  Foundation dan NUS Buat Kompetisi Inovasi Pembangunan Berkelanjutan

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Tanoto Foundation bekerjasama dengan the National University of Singapore (NUS) dalam upaya mencari solusi atas permasalahan kemiskinan melalui kompetisi bertema Crossing the Chasm Challenge. 

Para mahasiswa ditantang untuk membuat program terbaik yang mendorong perbaikan ekonomi pada masyarakat tertinggal. Hal ini bertujuan agar mahasiswa belajar memajukan sektor kewirausahaan sosial melalui penelitian dan pendidikan. 

“Kegiatan ini sengaja diluncurkan untuk memberikan kesempatan dan pengalaman para mahasiswa dalam mempraktekkan pembelajaran secara langsung. Diharapkan kontribusi banyak pihak akan membentuk bisnis yang berkelanjutan dan melahirkan inovasi yang berfokus pada penyelesaian kemiskinan,” kata Associate Director (Community Development) ACSEP Laina Raveendran Greene pada rilis yang diterima Sawit Indonesia, Rabu (21/9).

Kompetisi yang didanai oleh Tanoto Foundation ini melibatkan perusahaan potensial dari ASEAN dan para pakar di bidang industri. Ada sekitar 11 perusahaan terkenal yang dilibatkan dari Singapura, Indonesia, Nepal, Filipina dan India.

Awal Mei lalu, NUS Business School telah berhasil menjaring 13 tim mahasiswa UNS melalui proses penyeleksian proposal. Mereka akan bekerja sama dengan 11 perusahaan besar dan ditantang untuk mengembangkan rencana pemasaran di bawah bimbingan dari beberapa pemimpin bisnis top Singapura seperti Mr Jacky Mussry (Deputi CEO Mark Plus, Inc), Ms Margaret Kim (Direktur, General Counsel of Credit Suisse) dan Natasha Gray (Konsultan Asosiasi di APCO).

Selanjutnya, 16 September lalu telah diumumkan para pemenang yang berhasil menyajikan ide terbaik dan menarik kepada para panel. Alhasil, tim iChange yang terdiri dari mahasiswa NUS seperti Vincent Ng, Jared Ho, Terence Teoh dan Tan Yan Ni, dan perusahaan sosial mereka, terpilih sebagai juara pertama dan berhak memenangkan hadiah masing-masing sebesar $ 12.000 dan S $ 30.000.

“Kami menyatakan tim ini menang karena mengusulkan solusi dan strategis untuk mengatasi permasahan para pencari pekerja dari luar dengan memberdayakan pekerja migrant melalui keterampilan berkomunikasi,” tambahnya. 

Sedangkan, Tim Krakakoa, yang terdiri dari gabungan mahasiswa pascasarjana Yale-NUS seperti Angela Ferguson, Anjali Hazra, Jermaine Pan dan Regina Ng Si En dan perusahaan sosial mereka, terpilih sebagai juara ke-2 dan masing-masing memperoleh uang S $ 8000 dan S $ 20.000. 

Tim ini mengusulkan bagaimana strategi produsen cokelat Indonesia memperluas pasarnya hingga ke Singapura. Selain itu, tim ini pula memenangi Award People Choice, sehingga memenangkan tambahan hadiah sebesar S $ 2.500.

The Asia Centre for Social Entrepreneurship and Philantropy (ACSEP) di NUS Business School mempunyai misi besar untuk memajukan sektor kewirausahaan sosial melalui penelitian dan pendidikan. Inisiatif ACSEP berhasil  diwujudkan berkat dukungan dana dari yayasan Tanoto, yang bekerja sama dengan masyarakat dan mitra untuk mengatasi masalah kemiskinan di negara-negara berkembang, di mana keluarga Tanoto memiliki peran yang signifikan. Yayasan ini telah mendukung ACSEP dan telah menyumbangkan hadiah uang sebanyak S $ 225.000.

“Tantangannya menawarkan pengusaha sosial kesempatan untuk berkolaborasi dengan siswa untuk memperbaiki model bisnis mereka, sehingga meningkatkan dampak sosial mereka. “kata Tanoto Foundation Board Member and programme finals judge Belinda Tanoto.

Selain dukungan dari Tanoto Foundation, sekitar 20 industri senior profesional dari organisasi terkemuka yang mencurahkan waktunya untuk menjadi mentor dan membimbing mahasiswa dalam kompetisi ini. Perusahaan itu adalah Akamai, APCO Worldwide Auto Wealth, Catalyst Health Asia, Credit Suisse, Ernst & Young, Mark Plus, Inc., MasterCard dan Procter & Gamble. (Ferrika Lukmana)

 

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.