Stok Tinggi, DMSI Usulkan 3 Solusi Penyerapan Sawit

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) menyatakan produksi sawit terus meningkat saat peak season pada penghujung tahun 2018. Dikhawatirkan tangki penyimpanan sawit semakin penuh karena ekspor dan konsumsi domestik dari B-20 belum berjalan maksimal.

“Penuhnya tanki timbun akan berdampak kepada sejumlah pabrik kelapa sawit yang tidak mampu mengolah TBS terutama yang berasal dari petani/pekebun,”kata Derom Bangun, Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia, di Jakarta, Rabu (26 September 2018).

Derom menjelaskan bahwa program B-20 yang berlaku 1 September 2018 yang kita harapkan industri FAME (biodiesel) masih mengalami beberapa kendala kecil di lapangan. Padahal dari program ini diharapkan mampu menyerap produksi CPO, menurunkan stok, dan menstabilkan harga sawit.

Data terakhir, volume ekspor masih bertahan di level 3,2 juta ton per bulan dalam 2 bulan terakhir ini yang menunjukkan ada kenaikan volume ekspor dibanding dengan bulan Mei-Juni lalu. Jika kondisi ini berlanjut, situasi ini dapat menjadi masalah besar bagi industri sawit.

Sementara itu, kata Derom, ekspor ke beberapa negara tujuan belum dapat ditingkatkan karena tarif bea impor masih tinggi. Sedangkan, pasar Afrika Timur belum dapat menerima minyak sawit bentuk bulk.

“Di beberapa negara, terjadi kurangnya fasilitas tanki timbun,” papar Derom.

Menyikapi situasi ini, DMSI mengusulkan tiga opsi untuk meningkatkan konsumsi sawit. Pertama adalah mempercepat pelaksanaan dan distribusi serta kesiapan logistik dalam pelaksanaan B-20 di Indonesia.

Opsi yang kedua, dikatakan Derom, menurunkan pungutan ekspor untuk RBD Olein dari US$30 menjadi US$20/Ton untuk jenis bulk. Tarif pungutan minyak goreng (Olein) dalam kemasan < 25kg diturunkan dari US$20 menjadi US$ 5/ton.

“Pada saat yang bersamaan bea pungutan CPO dapat diturunkan dari 50 dolar per ton,”jelas Derom.

Untuk opsi yang ketiga adalah potensi biodiesel diekspor ke berbagai negara karena harga solar di pasar global meningkat di sekitar US$1, 2 per liter dan jauh diatas harga biodiesel Indonesia sekira US$ 65-70 cent/liter. Sejalan dengan ini, DMSI mengusulkan tarif pungutan ekspor biodiesel turun dari 20 dolar per ton menjadi 5 dolar per ton.

“Usulan telah disampaikan kepada pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan,” tambah Derom.

Derom menjelaskan ekspor ke negara tujuan dapat ditingkatkan jika produk sawit Indonesia bisa kompetitif dengan produk hilir Malaysia.

Oleh karena itu DMSI mengharapkan pemerintah melakukan tindakan cepat agar produksi CPO yang mulai melimpah ini segera diserap industri dalam negeri termasuk ekspor ke berbagai negara tujuan meningkat.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Hi there! Click one of our representatives below and we will get back to you as soon as possible.

Customer Services on WhatsApp