Restorasi Gambut Dijual Kepada Investor Asing

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Kabar mengejutkan datang dari pemerintah yang berkeinginan mengajak investor asing untuk menanamkan modal dalam program restorasi gambut. Kenapa investasi untuk tanaman lain diperbolehkan tetapi sawit dilarang untuk areal gambut?

Setelah pertemuan pada Rabu pagi (24/8) di Kantor Wakil  Presiden, Nazir Foead, Kepala  Badan Restorasi Gambut (BRG) menjelaskan usulan pembuatan roadmap sesuai arahan Jusuf Kalla yang akan mempresentasikannya pada saat kunjungan ke Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa, pada September depan.

“Jadi Pak JK memberikan arahan terkait menjual program restorasi gambut kepada investor internasional. Kami diminta siapkan hitung-hitungan ini, siapkan bahan untuk presentasi ke New York, ,” jelas Nazir Foead seperti diberitakan beberapa media nasional.

Dalam kesempatan tersebut, menurut Nazir, akan dilakukan pembicaraan dengan kalangan investor yang tertarik restorasi gambut supaya mereka mau menanamkan modal.

Lebih lanjut Nazir mengatakan jenis invetasi yang ditawarkan  berupa tanaman yang adaptif dengan gambut seperti nanas, sagu, dan sorgum. Selain itu, ada pula tawaran investasi sektor peternakan di areal gambut.  Dalam hitungannya, investasi pengelolaan lahan gambut sekitar Rp 20 juta per hektare.

“Lalu ditambah pembuatan sekat kanal sebesar Rp 6 juta per hektar,” jelas Hartono Prawiratmadja, Sekretaris BRG.

Supaya menarik investor, diungkapkan Nazir, akan dipersiapkan paket kebijakan mengenai kemudahan perijinan investasi.

Dari data BRG tercatat 6 juta hektar lahan gambut mengalami kerusakan berat dan ringan akibat kebakaran lahan beberapa waktu lalu. Lalu, perusahaan yang mengantongi izin pemanfaatan area dan  investor baru akan terlibat. BRG akan menawarkan investai di lahan yang sudah berizin maupun belum berizin.

Menurut Nazir kegiatan restorasi gambut bertujuan memulihkan ekosistem dan menjaga hutan tidak lagi terbakar. “Namun, kami membayangkan keterlibatan inisiatif  dalam  kegiatan bisnis, investasi, baik dari luar maupun dari Indonesia untuk menciptakan peluang bisnis baru,” tuturnya.

Ditambahkan Nazir sejumlah keuntungan dari invetasi terkait restorasi gambut ini antara lain apabila restorasi  dapat berhasil, maka keuntungan yang dari hasil tanaman bisa dibagi sesuai presentase yang telah disepakati.

Keuntungan lain adalah investor dapat mendapatkan keuntungan dari nilai tukar karbon. Melalui mekanisme Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD++).

Keinginan mengundang investasi asing di lahan gambut menunjukkan pemerintah tidak konsisten dalam menjalankan restorasi. Di sisi lain, pemerintah menunda pembukaan lahan gambut untuk perkebunan sawit melalui kebijakan moratorium sebagai tercantum dalam inpres nomor 8/2015 dan Surat Edaran Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup pada November lalu yang melarang penggunaan lahan gambut untuk perkebunan sawit.

Bustanul Arifin, Pengamat Pertanian, menyebutkan perlu dikaji dari segi teknis agronomis berkaitan rencana investasi lahan gambut untuk tanaman seperti sagu, nanas, dan sorgum.  Seperti performa perakaran dan siklus hidup tanaman.

“Jika ternyata secara teknis sama. Maka kebijakan ini (moratorium)boleh disebut diskriminatif,” ujarnya melalui layanan pesan singkat. (Qayuum)

 

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Hi there! Click one of our representatives below and we will get back to you as soon as possible.

Customer Services on WhatsApp