Prof.Dr.Eng. Eniya Listiani Dewi, B.Eng, M.Eng, Deputi BPPT: Fuel Cell Untuk Masyarakat

Prof. Eniya Listiani Dewi memanfaatkan limbah sawit sebagai bahan baku alternatif energi di masa depan (fuel cell). Penemuan ini untuk mengantisipasi  turunnya cadangan energi berbasis fosil.

Prof.Dr.Eng. Eniya Listiani Dewi, B.Eng, M.Eng menjadi satu-satunya wanita peraih penghargaan BJ Habibie Technology Award 2018 atas penelitian yang dilakukan. Penghargaan itu diberikan atas prestasinya mengembangkan teknologi Fuel Cell atau sel bahan bakar yang dihasilkan dari gas hidrogen bersumber biomassa limbah  sawit. Penghargaan BJ Habibie Technology Award diberikan pada 10 Juli 2018, di Jakarta.

Prof. Eniya Listiani yang berasal dari Magelang Jawa Tengah,  menjelaskan hasil penelitiannya ini dapat dijadikan salah satu  energi alternatif masa depan termasuk dalam pemenuhan kebutuhan listrik, bahan bakar kendaraan. Menariknya, sumber energi baru ini ramah lingkungan. Bahkan tidak menghasilkan polusi suara. Aplikasi Fuel Cell pada otomotif dikembangkan di sepeda motor hidrogen dengan kapasitas 500 W. Energi yang dihasilkan ini mampu digunakan pada 60 km/jam dengan konsumsi rata-rata 1 km/L hidrogen.

“Jadi, yang keluar dari knalpot motor berbahan bakar hydrogen ini yaitu air,” ucap Eniya, sambil menunjukkan sepeda motor hasil ujicoba yang dipamerkan, di lobby Gedung 625, Pusat Penelitian dan Teknologi (Puspitek), Tangerang Selatan Banten.

Dalam wawancara yang berlangsung di kantornya, Prof.Eniya yang menjelaskan dengan lugas dan singkat bagaimana proses terjadinya gas Hydrogen menjadi aliran listrik dan air. “Prosesnya yaitu mereaksikan hidrogen dan oksigen terus masuk ke membran melewati katalis dan bertemu kemudian menjadi H2O dam listrik.” jelasnya.

Susunan komponen Fuel Cell yang dimaksud Prof. Eniya Listiani adalah seperti bentuk baterai.  Sel yang ada di dalamnya mengubah gas hidrogen dan oksigen secara elektrokimia dengan menggunakan katalis (zat yg dapat mempercepat atau memperlambat reaksi) menjadi elektron yang bisa menghasilkan arus listrik. Sisanya proton yang teroksidasi dengan oksigen, menghasilkan air.

Yang lebih mengagumkan Fuel Cell System inovasi Eniya Listiani Dewi sudah digunakan oleh perusahaan telekomunikasi di Indonesia untuk back up power yang dipasangkan pada Base Transceiver Station atau yang lebih dikenal BTS. Keunggulan energi power menggunakan Fuel Cell, tidak mengeluarkan suara dan emisi. Sangat berbeda dengan genset. “Jika menggunakan genset yang dipasang di roof top ada getaran, tapi apabila menggunakan Fuel Cell tidak ada getaran,” terang lulusan Waseda University Jepang.

Prof. Eniya Listiani Dewi  saat ini menjabat Deputi Bidang Teknologi Informasi, Energi dan Material BPPT. Wanita kelahiran 14 Juni 1974 ini  sudah banyak mendapatkan penghargaan. Usahanya dalam mengembangkan berbagai prototipe dengan berbagai ukuran daya, mulai 5 hingga 1kw, meraih berbagai penghargaan seperti dari PII-Engineering Award Adikara Rekayasa 2006, ASEAN Outstanding Engineering Achievement Award 2006, Ristek Medco Energy Award 2008. Penghargaan skala internasional juga diterimanya yaitu dari Asia Excelence Award 2009, Jepang.

Pada 2003 lalu, ia mendapat penghargaan Mizuo Award dan Koukenkai Award dari Waseda University atas temuan katalis bahan bakar yang terbuat dari unsur vanadium. Selain dua penghargaan tersebut, karya ilmiah lainnya yaitu metode penambahan nanopartikel, juga berhasil meraih penghargaan Asia Excellence Award yang dianugerahkan oleh Society of Polimer Science, Jepang.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Hi there! Click one of our representatives below and we will get back to you as soon as possible.

Customer Services on WhatsApp