Petani Desak Skema Avalis Tidak Dijadikan Standar Replanting

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Kalangan petani sawit meminta sistem bapak angkat (off taker) tidak menjadi persyaratan utama program pembiayaan replanting. Pemerintah sebaiknya memberikan kebebasan kepada petani untuk memilih bermitra atau independen.

“Konsep menko untuk replanting wajib avalis.ni sangat berbahaya. Pasti ribut di bawah (petani),” kata Rino Afrino, petani sawit yang berdomisili di Riau, pada Senin (11/9/2017).

Pernyataan Rino Afrino menanggapi keluarnya standar peremajaan sawit dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Salah usulan standar tersebut adalah tersedianya off taker (bapak angkat) yang sekaligus berfungsi sebagai penjamin kredit/avalis

Rino mengatakan petani perlu keseimbangan bagi kelembagaan yang sudah baik seperti koperasi/kelompok tani dan bankable. Jadi, mereka sebaiknua diberikan pilihan bergantung kondisi lembaganya.
Untuk kelembagaan petani yang sudah bagus bisa diarahkan untuk melaksanakan replanting secara mandiri yang didampingi tenaga ahli, lalu buahnya dijual ke perusahaan.

“Sementara bagi kelembagaan petani yang tidak baik seperti banyak hutang atau mau terima beres. Silakan ambil manajemen satu atap (avalis),” kata Rino yang juga pengurus pusat DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia.

Pada Jumat pekan lalu, pemerintah akan membentuk Tim Kerja Replanting (Peremajaan) Kelapa Sawit guna menyelesaikan permasalahan replanting yang selama ini muncul. Nantinya tim ini akan terdiri dari kementerian, pemerintah daerah terkait serta Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).

“Kenapa tim kerja itu harus ada, supaya apapun pemikiran dan rencana dari masing-masing agar kita bicarakan di dalam tim kerjanya. Kita ingin program ini berhasil dengan baik dan berkelanjutan,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution dalam Rapat Koordinasi dalam Rapat Koordinasi Pembentukan Tim Kerja Replanting Sawit.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.