Penjualan Minyak Sawit Bersertifikat RSPO Di Bawah 50%

BANGKOK , SAWIT INDONESA –  Setelah 12 tahun RSPO berjalan, penyerapan minyak sawit bersertifikat RSPO atau Certified Sustainable Palm Oil (CSPO) di bawah 50%. Kalangan produsen mengeluhkan rendahnya komitmen pembeli.

Sebagaimana disampaikan Carl Bek-Nielsen, Co-Chairperson RSPO pada gelaran Roundtable (RT) 14 RSPO di Bangkok, Rabu (9/10). Menurutnya, serapan CSPO memang tak pernah melebihi 50 persen dari total produksinya.

“Ada catatan yang tak terlalu baik, tak hanya bagi growers melainkan juga untuk RSPO.  Dari 18 persen dari produksi CPO dunia yang bersertifikat  RSPO. Tapi harus dilihat bahwa 50 persen dari produksi  tidak dapat terserap,” ungkap Carl kepada wartawan.

Merujuk kepada data RSPO, pada 2011 produksi CSPO berjumlah 5,5 juta ton dan penyerapan 2,4 juta ton. Tahun  2012, malahan dengan produksi 8,1 juta ton yang terjadi penjualan hanya 3,5 juta ton. Kondisi serupa terjadi tiga tahun berikutnya. Pada 2013 produksi 9,7 juta ton dengan serapan 4,5 juta ton, 2014 produksi 12 juta ton dengan serapan 5,3 juta ton, 2015 12,8 juta ton dengan serapan 6,1 juta ton.

Sampai September 2016, CSPO yang diproduksi mencapai 11,4 juta ton, dan yang terserap hanya 4,2 juta ton. “Sekarang kita akan mulai fokus terhadap penyerapan CSPO. Karena tentu akan menjadi percuma ketika RSPO berhasil meningkatkan produksi namun tidak terserap pasar,” kata Carl Bek Nielsen.

Darrel Webber, CEO RSPO menambahkan bahwa rendahnya serapan CSPO memang menjadi satu tantangan besar bagi RSPO saat ini.

Sejumlah negara Eropa menyatakan komitmennya untuk pembelian CSPO 100% pada 2020. Tetapi komitmen ini dipertanyakan kalangan produsen lantaran pasokan CSPO telah mencukupi. “Kalau bisa diserap sekarang mengapa harus tunggu 2020. Produsen sudah siap dengan minyak sawit bersertifikat,” kata Tan Sri Datuk Dr. Yusof Basiron, CEO Malaysian Palm Oil Council. (Anggar)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.