Pendapatan Semester Pertama Bakrie Sumatera Rp 770 Miliar

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk membukukan nilai penjualan sebesar Rp 770 miliar sepanjang enam bulan pertama tahun 2016 seperti pada laporan keuangan 30 Juni 2016 yang dirilis Senin 1 Agustus.

Penjualan ini ditopang dari komoditas sawit dengan nilai penjualan Rp 571 miliar dan komoditas karet Rp 199 miliar. Menurut Andi, harga komoditas sawit utama yaitu CPO membaik dari level bulanan terendah USD 530 per ton FOB Malaysia di Januari ke level tertinggi USD 680 di April 2016.

Lebih lanjut, Andi menyebut, kondisi El-Nino ditahun 2015 dan program biodiesel domestik menyebabkan berkurangnya ekspor pasokan sawit dunia untuk tahun 2016, dan kondisi itu menjadi katalis perbaikan harga CPO yang mulai terlihat di akhir kuartal 1-2016.

Perseroan terus bekerja keras melakukan serangkaian program revitalisasi perkebunan dan fasilitas produksi untuk menjaga produktivitas kebun inti sawit dan karet, ditengah diskon harga jual CPO (Crude Palm Oil) domestik akibat kebijakan CPO Fund Pemerintah memungut USD 50 per ton CPO untuk subsidi program biodiesel nasional, dan El-Nino yaitu kondisi cuaca ekstrim udara kering dan kurangnya curah hujan yang menyebabkan kemarau panjang dan kekeringan.

“Kami bekerja keras dengan sebaik-baik nya mengatasi kondisi air di kebun akibat kondisi cuaca ekstrim El-Nino tahun lalu, untuk menjaga produktivitas kebun inti sawit dan karet. Semester pertama umumnya memang siklus produksi rendah, biasanya mulai meningkat pada semester kedua dan mencapai puncaknya di kuartal terakhir setiap tahun. Optimalisasi produktivitas pabrik juga dilakukan dengan pembelian sawit dan karet dari petani yang tidak memiliki pabrik sekaligus membantu kesejahteraan mereka,” Direktur Investor Relations UNSP, Andi W. Setianto dalam siaran persnya.

Disisi lain, kebijakan pungutan CPO Fund USD 50 per ton untuk subsidi program biodiesel nasional menyebabkan diskon harga CPO domestik yang diterima Perseroan dan petani dari menjual CPO dan FFB (Fresh Fruit Bunch) di pasar lokal. Pajak Ekspor CPO yang kembali dipungut Pemerintah Mei dan Juni 2016 ini, juga menambah diskon harga jual CPO dan FFB domestik yang diterima Perseroan dan petani.

 

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.