Minyak Sawit Perbaiki Kolestrol Dan Gula Darah (Bagian II)

Selama ini berkembangpersepsi bahkan telah menjadi mitos bahwa minyak goreng mengandung kolestrol.Begitu kuatnya mitos tersebut sehingga masyarakat menjadi fobia bahwa mengkonsumsi makan-makan yang mengandung minyak seperti minyak goreng, cenderung dihindari karena takut kolestros. Persepsi yang demikian terbentuk lantaran kampanye negatif/hitam yang dilakukan American Soybean Association (ASA) awal tahun 1980. Untuk memojokan minyak nabati tropis khususnya minyak sawit yang mulai mengancam pasar minyak kedelai diseluruh dunia, ASA melancarkan propaganda yang mrnuduh minyak sawit mengandung kolestrol bahkan meminta pemerintah USA melarang minyak nabati tropis masuk ke Amerika Serikat.

NIR Kolestrol dan Komposisi Asam Lemak Seimbang

Sejauh ini tak satu pun ahli-ahli gizi di dunia yang pernah mengatakan bahwa minyak goreng dari nabati seperti minyak goreng sawit mengadung kolesterol. Kolesterol hanya dihasilkan oleh hewan dan manusia, sedangkan tanaman tidak memiliki kemampuan menghasilkan kolesterol. (Calloway and Kurtz, 1956; USDA, 1979; Life Science Research Office, 1985; Cottrell, 1991; Muhchtadi, 1998; Muhilal, 2010; Giriwono dan Andarwulan 2016).

Minyak goreng sawit yang dihasilkan dari tanaman kelapa sawit tidak mengandung kolesterol. Minyak sawit mengandung proporsi asam lemak jenuh (saturated fatty acid) dan asam lemak tak jenuh (unsaturated fatty acid) yang seimbang. Komposisi asam lemak minyak sawit terdiri atas : asam lemak jenuh (44 persen asam lemak palmitic, 5 persen asam lemak stearic, asam lemak tak jenug ikatan rangkap tungal (monounsatured fatty acid, MUFA) yakni 40 persen asam lemak oleic dan asam lemak tak jenuh ikatan rangkap jamak (poly unsaturated fatty acid, PUFA), Yakni 10 persen asam lemak linoleic dan 0,4 persen asam lemak alpha linolenic. Secara keseluruhan minyak sawit sesunguhnya memiliki karakteristik perilaku seperti monounsaturated oil (United States Departement of Agriculture, 1979; Cottrel, 1991; Small, 1991; Choudhury et.al., 1995; Kritchevsky et.al., 2000; Ong and Goh, 2002; FAO, 2010; Haryadi, 2010; Giriwono dan Andrawulan, 2016).

Sumber: GAPKI

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Hi there! Click one of our representatives below and we will get back to you as soon as possible.

Customer Services on WhatsApp