Mantan Rektor UKI: Sawit Watch Jangan Lecehkan Kredibilitas Guru Besar IPB

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Sawit Watch, LSM Advokasi Sawit, diminta tidak membuat pernyataan yang melecehkan kredibilitas dan penelitian Guru Besar IPB, Prof.Yanto Santosa.  

“Sawit Watch jangan seenaknya men-cap Guru Besar IPB (Prof. Yanto Santosa)   sebagai peneliti yang tidak kredibel,” kata Ir.Maruli Gultom, Rektor Universitas Kristen Indonesia (UKI) periode  2008-2012, melalui sambungan telepon, Kamis (23/3).

Maruli Gultom menyatakan NGO sebaiknya tidak membuat definisi hutan dan aturan sendiri. Pasalnya, Indonesia mempunyai regulasi yang bisa menjaga luasan hutan di dalam negeri.

“Coba Sawit Watch berikan bukti berapa luasan kebun sawit dan luasan hutan Indonesia yang sudah terdeforestasi. Mereka seharusnya mengkritik perkebunan kedelai dan bunga matahari yang luasannya puluhan kali dari sawit. Bukannya menyerang kebun petani bangsa sendiri, demi kepentingan asing,” tegas Maruli.

Berdasarkan data PBL Netherlands Environmental Assessment Agency, bahwa 65% atau 20,4 milyar ton dari total emisi karbon dioksida dunia diproduksi oleh 10 negara, yaitu Amerika Serikat, Cina, India, Rusia, Jepang, Jerman, Kanada, Inggris, Italia dan Australia. Pada 2009, Amerika Serikat, menyumbang pencemaran CO2 sebanyak 5,3 milyar ton. Tiap penduduk Amerika Serikat per tahun berkontribusi sebesar 17,3 ton CO2 pencemaran udara, sementara Uni Eropa pada angka 7,7 ton.

Maruli menuturkan, emisi CO2 bersumber dari alat transportasi (darat, laut, dan udara) serta pabrik pabrik pembangkit listrik dan industri yang menyebabkan polusi udara yang kemudian menjadi pemanasan global dan perubahan iklim. Sayangnya, LSM Lingkungan bukannya mempermasalahkan hal tersebut melainkan membidik sawit sebagai penyebab utama kerusakan alam.

“Tidaklah mengherankan, mereka (LSM Lingkungan) melakukannya karena mendapatkan pembiayaan kegiatan dari pihak asing,” tegas Maruli.

Dengan demikian, LSM ini akan terus-menerus memberitakan sawit sebagai penyebab utama kerusakan bumi dengan berbagai cara. Diantaranya, dengan menghitung emisi carbon dari industri sawit, sistem tata kelola pengelolaan gambut dan pembukaan hutan

“Setiap kasus di blow-up sedemikian rupa, memberi kesan terjadi setiap hari dimana saja, oleh siapa saja di perkebunan sawit. Sawit adalah masalah besar bagi keselamatan bumi dan pencemar karbon terbesar dunia,” jelas mantan Rektor UKI ini.

Menurut data CIA Fact Book 2011, hutan Indonesia menutupi 46% luas daratannya, sementara hanya 29% permukaan tanah Norwegia yang ditutupi hutan. Hutan Indonesia jauh lebih luas daripada hutan Norwegia yang hanya 94 ribu hektare dibanding hutan Indonesia yang 890 ribu hektare .

Sementara itu, tutupan hutan di Perancis 37% – itupun sudah termasuk wilayah jajahannya di seberang lautan, Italia 35%, Luxembourg 34%, Selandia Baru dan Jerman 32%, Swiss, Kanada dan Amerika Serikat 31%, Belgia 22%, Inggris dan Denmark 12%, Australia 19%, Irlandia 11%, dan Belanda hanya 9%, jauh dibawah Indonesia yang tutupan hutannya 46%.

Atas hal itu, ia meminta Sawit Watch untuk menghentikan kampanye negatif terkait industri karena dapat menganggu perekonomian nasional. “Harga sawit sebelumnya sempat rendah bertahun-tahun, hentikanlah menyerang sawit karena sawit adalah  produk unggulan Indonesia dan dunia. Semestinya kita dukung, bukan menjatuhkannya,” tutupnya. (Ferrika Lukmana)

 

 

 

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.