LSM Minta Masyarakat Dilibatkan Dalam Pengembangan Sawit Papua

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Pengembangan sawit di Papua dan Papua Barat dapat dijalankan asalkan masyarakat dapat dilibatkan dalam pembangunannya. Data Sawit Watch menunjukkan luas perkebunan kelapa sawit di Provinsi Papua saat ini mencapai 958.094,2 (belum termasuk Papua Barat) dengan 79 perusahaan perkebunan.

Maryo Saputra, Kepala Divisi Kampanye Sawit Watch mengatakan luas perkebunan kelapa sawit yang ada saat ini di provinsi Papua akan terus bertambah karena luasan hutan di Papua juga tergolong besar.

Berdasarkan pengamatan Sawit Watch, pengembangan perkebunan kelapa sawit saat ini tidak lagi berada di Pulau Sumatera atau Kalimantan tetapi sudah beranjak ke wilayah Indonesia Timur, mulai dari Maluku, Sulawesi, Papua Barat dan Papua.

Dikatakan Maryo, investasi perkebunan kelapa sawit dalam pembangunan daerah tentunya sangat penting tapi perlu juga melindungi masyarakat dari berbagi persoalan yang terjadi di sektor ini.

“Selain itu, peran masyarakat perlu dilibatkan dalam pengembangan perkebunan karena satu hal yang wajib dilakukan,” kata Maryo dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi pada akhir Desember 2017.

Dalam kesempatan terpisah pada September 2017, Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Merauke dan Boven Digoel, Sebastianus Ndiken meminta pembangunan lahan plasma bagi masyarakat adat untuk meningkatkan kesejahteraan. Yang sangat disayangkan, kampanye negatif LSM asing seperti Mighty Earth dan AidEnvironment sangat merugikan masyarakat sebagai pemilik hak ulayat, karena perusahaan sawit yang telah bermitra dengan masyarakat, tidak berani membuka lahan plasma masyarakat. Akibatnya pembangunan kebun plasma untuk masyarakat lokal belum terlaksana sampai saat ini.

“Kami ingin agar kebun plasma untuk masyarakat segera dibangun agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat pemilik hak ulayat. Karena kami masyarakat Papua juga ingin maju dan sejahtera serta sejajar dengan saudara saudara kami didaerah lain diluar Papua,” ucapnya.

Ditemui bulan Agustus 2017, Pastor Felix Amias, Anggota Missionarium Saccratissmi Cordis, menegaskan  apabila masyarakat sudah sepakat menjalin kemitraan dengan perusahaan, di sisi lain perusahaan telah mengikuti aturan pemerintah daerah dan pusat. Maka, tidak ada salahnya kalau perkebunan sawit di buka di kedua daerah tadi.

“Saya telah keliling ke delapan distrik dan bertanya langsung ke masyarakat. Jawaban mereka semua setuju dengan pembukaan plasma masyarakat,”ujar Pastor Felix yang juga tokoh masyarakat Boven Digoel.

Sumber foto: istimewa

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Hi there! Click one of our representatives below and we will get back to you as soon as possible.

Customer Services on WhatsApp