Ketum GAPKI: Dunia Tidak Bisa Hidup Tanpa Sawit

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Kelapa sawit tetap dibutuhkan dunia untuk memenuhi kebutuhan pangan dan energi. Komoditas emas hijau ini punya keunggulan produktivitas tinggi dibandingkan minyak nabati lain seperti kedelai dan bunga matahari.

Hal ini diungkapkan Joko Supriyono, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) dalam pidatonya pada saat acara Buka Puasa GAPKI, di Jakarta, Rabu ( 31/5/2017).

Menurutnya, untuk memenuhi pertambahan kebutuhan minyak nabati dunia setiap tahunnya, hampir seluruh perkebunan minyak nabati melakukan ekspansi lahan.

Merujuk data Oil World Dalam kurun waktu 2012-2016, ekspansi lahan untuk perkebunan kedalai mencapai 16,29 juta hektar. Sementara itu, dalam kurun waktu yang sama, ekspansi perkebunan kelapa sawit di dunia mencapai 3,1 juta hektar.

“Jadi, pilihannya jelas yakni mengembangkan perkebunan kelapa sawit lebih baik dibandingkan mengembangkan perkebunan kedelai atau tanaman minyak nabati lainnya” kata Joko Supriyono yang satu almamater dengan Presiden Jokowi dari Universitas Gajah Mada.

Upaya perluasan sawit lebih baik dalam pemenuhan kebutuhan konsumsi minyak nabati dunia dengan tetap menahan laju deforestasi. Dari aspek suplai atau pasokan, negara-negara konsumen minyak sawit terbesar seperti India, China, Pakistan, juga Uni Eropa, jelas tidak mungkin bisa menggantikan minyak sawit dengan minyak nabati lainnya.

Karena itu, kata Joko, untuk menjawab pertanyaanmungkinkah dunia tanpa minyak sawit? Jawabnya jelas yaitu Dunia tidak mungkin tanpa minyak sawit.

Lalu, apakah Indonesia akan tetap menjadi produsen minyak sawit terbesar dunia? Hingga tahun 2016, dengan luas lahan 11,5 juta hektar, Indonesia adalah produsen minyak sawit terbesar di dunia dengan produksi mencapai 34,5 juta ton. Dari produksi tersebut, 25,11 juta ton terserap di pasar ekspor.

Lima kawasan tujuan ekspor terbesar minyak sawit Indonesia adalah India (5,78 juta ton), Uni Eropa (4,37 juta ton), Republik Rakyat Tiongkok (3,22 juta ton), Pakistan (2,06 juta ton), dan negara-negara Timur Tengah (1,97 juta ton). Dan permintaan dari negara-negara tersebut terus meningkat, selain juga ada tambahan permintaan dari berbagai negara tujuan ekspor baru seperti Amerika Serikat dan Eropa Timur.

Joko menambahkan dari aspek permintaan, dengan terus mengembangkan sektor kelapa sawit, Indonesia akan terus menjadi produsen minyak sawit terbesar dunia.

“Meskipun berbagai kampanye negatif, termasuk dari Uni Eropa yang notabene juga konsumen minyak sawit Indonesia, permintaan global akan minyak sawit akan tetap tinggi bahkan cenderung terus meningkat,” pungkas Joko Supriyono.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.