Kemitraan Dalam Replanting Tingkatkan Kesejahteraan Petani

YOGYAKARTA, SAWIT INDONESIA – Pola kemitraan bukan hal baru dalam industri sawit Indonesia. Pola kemitraan dapat menjadi solusi untuk membangun industri yang lebih produktif dan berkelanjutan.

Dono Boestami, Direktur Utama BPDP-KS mengatakan perlu ada upaya menyeluruh untuk mencari solusi mengatasi berbagai hambatan kemitraan dalam meningkatkan  industri dan kesejahteraan petani. Makanya perlu ada upaya memberikan manfaat maksimal kepada pihak-pihak yang terlibat dalam kemitraan.

Secara historis, kata Dono, pola kemitraan bukan hal baru di industri sawit yang dimulai sejak tanaman perkebunan menjadi usaha masyarakat pedesaan maka telah terjadi kerjasama kemitraan. Dalam skema kemitraan inilah akan membantu masyarakat menguasai aset lahan dan modal finansial.

“Kemitraan selain mempercepat proses pembangunan kebun juga menciptakan masyarakat desa pemilik kebun. Dengan formula tersebut, bagi kebun terbuka jalan sosial vertikal. Selanjutnya, buruh tani atau petani penggarap yang miskin akan menjadi petani pemilik yang mandiri dan sejahtera,” kata Dono Boestami dalam diskusi bertemakan “Pola Kemitraan antara Petani dan Stakeholder Yang Potensial”, di Yogyakarta, Selasa (28 Agustus 2018).

Dalam pandangan Dono, tantangan yang terjadi dalam masyarakat industri yaitu kepemilikan aset dan akses pasar yang tidak merata. Itu sebabnya, kemitraan akan menjadi solusi memberikan akses antara komponen masyarakat menjadi kebutuhan. Selanjutnya jika ini terjadi maka industri sawit telah sejalan dengan fokus pembangunan pemerintah yaitu kebijakan pemerataan ekonomi yang bertumpu pada tiga pilar yakni lahan, kesempatan, dan Sumber Daya Manusia (SDM).

“Sejalan itu, keberhasilan kemitraan petani dengan perusahaan selaras dengan berkelanjutan dengan konsep SDG. Baik yang terkait dengan aspek ekonomi, sosial dan lingkungan,”paparnya.

Saat ini, produktivitas sawit petani di Indonesia baru 2-3 ton CPO per tahun. Sedangkan perusahaan bisa mencapai 6-8 ton. Rendahnya produktivitas sawit di Indonesia disebabkan usia tanaman terlalu tua. Lebih 25 tahun. Penggunaan bibit yang kurang baik turut memengaruhi hasil produksi.

Pola kemitraan diperlukan untuk menggenjot produktivitas sawit. Dengan melibatkan perusahaan-perusahaan swasta atau negara dan stakeholder lainnya.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Hi there! Click one of our representatives below and we will get back to you as soon as possible.

Customer Services on WhatsApp