Industri Minyak Sawit Indonesia Berkelanjutan (Bagian XII)

Kedua, selama periode tahun 2000-2010 atau dalam sepuluh tahun Indonesia dapat membengun 4 juta hektar kebun sawit. Sementara pada periode sebelumnya Indonesia memerlukan waktu hampir 90 tahun untuk membangun luasan lahan yang sama. Ketiga,  dalam priode tahun 2000-2010, selain menghadapi masa sulit, juga tidak ada lagi fasilitas/kemudahan yang diberikan pemerintah pada perkebunan kelapa sawit. Hal ini berbeda dengan pada periode sebelumnya khususnya pada 20 tahun terakhir era Orde Baru (1980-2000) di mana selain lingkungan strategis yang relatif stabil, pembangunan perkebunan kelapa sawit juga diberikan fasilitas dan kemudahan dari pemerintah.

Keempat, peran perkebunan kelapa sawit rakyat semakin besar. Pangsa kelapa sawit rakyat meningkat dari 28 persen tahun 2000 menjadi 42,4 persen pada tahun 2010. Peningkatan pangsa kebun rakyat tersebut tanpa fasilitas/subsidi kredit dari pemerintah, melainkan dibiayai dari modal sendiri dan kredit komersial perbankan dengan atau tanpa avalis. Keberhasilan perkebunan kelapa sawit rakyat memperbesar pangsanya dalam industri minyak sawit nasional tersebut merupakan keberhasilan kelembagaan inti-plasma yang dikembangkan mulai tahun 1980. Dalam kelembagaan inti-plasma tersebut perkebunan negara (BUMN) dan perkebunan swasta bertindak sebagai inti yang memberikan layanan teknologi dan pengetahuan maupun avalis perkebunan rakyat.

Dalam periode tahun 2010, industri minyak sawit Indonesia bukan hanya berhasil memperluas areal perkebunan, melainkan juga berhasil meningkatkan produksi  CPO, hingga pada tahun 2006, Indonesi berhasil melampaui Malaysia sebagai produsen terbesar CPO di  dunia. Pada tahun 2010, pangsa Indonesia sebagai produsen CPO terbesar dunia mencapai 48 persen.

Sumber: PASPI

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Hi there! Click one of our representatives below and we will get back to you as soon as possible.

Customer Services on WhatsApp