Industri Minyak Sawit Indonesia Berkelanjutan (Bagian IX)

Melihat keberhasilan tersebut, tahun 1911 perusahaan Belgia membuka usaha perkebuan kelapa sawit komersial pertama dipulau Raja (Asahan) dan Sungai Liput (Aceh). Pada tahun yang sama, perusahaan Jertman juga membuka usaha perkebuan kelapa sawit di Tanah Itam Ulu (sekarang Kabupaten Batu Bara). Langkah investor Belgia dan Jerman tersebut diikuti oleh investor asing lainnya termasuk Belanda dan inggris, sehingga tahun 1916 telah ada 19 perusahaan perkebunan kelapa sawit di Indonesia, kemudian meningkat menjadi 34 perusahaan pada tahun 1920.

Pabrik Kelapa Sawit (PKS) pertama di Indonesia dibangun tahun 1919 di Tanah Itam Ulu dan ekspor minyak sawit (CPO) pertama tercatat pada tahun 1919 dengan volume 576 ton. Volume ekspor meningkat seiring dengan peningkatan luas areal perkebunan kelapa sawit. Pada tahun 1937 pangsa produksi CPO Indonesia mencapai 40 persen dari total produksi CPO dunia mengalahkan Nigeria yang lebih dahulu mengembangkan perkebunan kelapa sawit Van Heurn, 1948 (Saragih, 1980). Dengan pangsa tersebut, Indonesia untuk pertama kalinya menjadi produsen CPO terbesar di dunia.

Namun CPO Indonesia turun secara draktis dari sekitar 239 ribu ton tahun 1940 menjadi 147 ton tahun 1958. Akibatnya pangsa pasar Indonesia di pasar CPO dunia turun dari urutan pertama menjadi urutan ke tiga setelah Nigeria dan Kongo (Saragih, 1980). Bila pada tahun 1937 Indonesia menduduki produsen CPO terbesar dunia dengan pangsa 40 persen, tahun 1959 turun ke urutan urutan ke tiga dengan pangsa hanya 17 persen.

Sumber: PASPI

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Hi there! Click one of our representatives below and we will get back to you as soon as possible.

Customer Services on WhatsApp