Indonesia dan Sistem Pelestarian Keanekaragaman Hayati (Bagian I)

Keanekaragaman hayati (biodiversity) baik tumbuhan (flora), Hewan (fauna) merupakan esensi ekosistem yang didalamnya selain anekaragam hayati juga jejaring rantai makanan (food webcomplex). Karena itu pelestarian biodiversity tidak bisa pendekatan sektoral, tetapi harus pendekatan ekosistem. Biodiversity merupakan kekayaan yang bernilai tinggi dalam ekosistem sehingga harus dilestarikan secara lintas generasi.

Beda dengan yang terjadi di Amerika Utara dan Eropa yang menghabiskan hutan alam (virgin forest) pada awal pembangunan, Indonesia yang memiliki filisofi kehidupan berbangsa yakni Bhineka Tunggal Ika sejak awal telah menganut paradigma penggunaan ruang termasuk pemanfaatan hutan alam yakni “keragaman flora dan fauna hidup berdampingan secara harmoni pada ruang masing-masing”. Implementasi paradigma tersebut adalah dimuat dalam berbagai Undang-Undang seperti UU No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan, UU No. 26 tahun 2007 tentang Tata Ruang dan UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistem.

Menurut Undang-Undang tersebut, daratan Indonesia terbagi atas dua kawasan yakni kawasan lindung dan kawasan budidaya. Kawasan lindung fungsi utamanya diperuntukan antara lain senagai “rumahnya” atau pelestarian flora dan fauna baik secara In Situ (sepenuhnya dirawat alam) maupun Ex Situ (kombinasi perawatan alam dan manusia). Sedang kawasan budidaya juga merupakan bentuk pelestarian biodiversity dengan cara pembudidayaan.

Sumber: Mitos vs Fakta, PASPI 2017

 

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Hi there! Click one of our representatives below and we will get back to you as soon as possible.

Customer Services on WhatsApp