INDEF Meluncurkan Buku Kemitraan Petani Asian Agri

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) membuat kajian pola kemitraan inti-plasma sawit yang berjalan di Asian Agri. Hasil Kajian dituangkan dalam buku setebal 100 halaman yang berjudul Menumbuhkembangkan Kemitraan Pertanian: Lesson Learned Model Kemitraan Petani Asian Agri.

Peluncuran buku ini menghadirkan pembicara antara lain Ahmad Erani Yustika (Dirjen Pembangunan Kawasan Perdesaan Kementerian Pedesaan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi), Fadhil Hasan (Peneliti INDEF), Andi Nuhung (Direktur Eksekutif DMSI), dan Ir.Galih Surti Solihin dari Ditjen Perkebunan.

“Dalam penyusunan buku ini, petani plasma dan swadaya diwawancarai untuk memahami perspektif kemitraan,”kata Fadhil Hasan, Peneliti INDEF yang juga penulis buku, Senin (30/10/2017).

Fadhil Hasan menjelaskan bahwa ada tiga faktor penting dalam kemitraan ini antara lain trust, modal sosial, dan kepastian. Pola ini menjadi kunci sukses dalam membangun kemitraan petani di Asian Agri.

Ini terbukti produktivitas petani plasma Asian Agri dapat mencapai 21,4 ton per hektare per tahun. Capaian produktivitas ini tidak berbeda dengan produktivitas kebun inti sebesar 23,5 ton per hektare per tahun.

Fadhil Hasan mengatakan kemitraan ini sulit untuk dihindarkan karena kemitraan menjadi bagian dari economic process, dengan begitu perusahaan memperoleh benefit. “Kemitraan ini memberikan kepastian dari aspek pasokan buah sawit. Selain itu, perusahaan lebih efisien melalui skema kemitraan ini,”katanya.

Namun demikian, pola kemitraan saat ini haruslah ditingkatkan lebih baik. Ahmad Erani Yustika menekankan tiga hal dalam perspektif pemberdayaan. Pertama, petani diberika ruang untuk membangun kapabilitasnya, salah satunya terkait transfer pengetahuan.

Kedua, menyusun kedaulatan dan kemandirian ekonomi. Sebab desa mempunyai potensi sumber daya ekonomi yang besar.

Ketiga, dikatakan Erani Yustika, bahwa pemberdayaan itu tidak boleh lepas dari sistem nilai di masing-masing tempat. Setiap wilayah punya sistem nilai sesuai pengetahuan dan kearifan lokal.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Hi there! Click one of our representatives below and we will get back to you as soon as possible.

Customer Services on WhatsApp