Dari Kesehatan, Ini 5 Keunggulan Minyak Goreng Sawit Dari Minyak Nabati Lain

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Pakar gizi pangan mengakui keunggulan kelapa sawit sebagai minyak goreng nabati paling sehat. Kelapa sawit mempunyai kelebihan dari aspek gizi dan kandungan yang tidak dimiliki minyak nabati lainnya.

Prof.Nuri Andarwulan, Kepala SEAFAST Center Institut Pertanian Bogor (IPB), yang juga dosen di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB, menjelaskan minyak sawit paling cocok dan efisien diolah menjadi minyak goreng. Karena kakteristik minyak goreng terdiri dari 50 persen asam lemak jenuh, 50 persen asam lemak tidak jenuh. 

Komposisi ini, kata Nuri Andarwulan, yang membuat stabilitas minyak goreng tinggi, tidak mudah tengik, sehingga produk gorengannya awet dan tidak mengandung radikal bebas tinggi.

” Di dunia, minyak sawit satu-satunya minyak nabati di dunia yang punya karakteristik seperti itu,” ujar guru besar IPB ini.

Keunggulan kedua adalah  sumbangan nutrisi dan zat gizi asam lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuhnya dalam tubuh. Asam lemak tidak jenuh adalah asam oleate dan sedikit lenoleate dan itu memang juga dimiliki oleh kedelai tapi kedelai amat sangat tinggi asam lemak tidak jenuhnya.

“Makanya, kedelai tidak bisa digunakan untuk menggoreng. Berarti zat gizi yang berada dalam minyak yang diperoleh dari makanan ya dari sawit,” kata Nuri.

Keunggulan ketiga yaitu minyak sawit, kata Nuri, punya kandungan omega 9 yang berfungsi untuk membangun dinding sel dan membran sel tubuh. 

Keunggulan keempat adalah kebutuhan lemak dalam tubuh mulai dari otak yang bahan baku utamanya adalah kolesterol, diperoleh dari asam lemak jenuh.

 ”Jadi asam lemak jenuh sawit itu pembangun kolesterol otak kita. Jadi ingat, dalam tubuh kita itu perlu kolesterol.Kalau kolesterol dari makanan terlalu tinggi, maka itu tidak sehat. Tapi tubuh  mampu mensintesis kolesterol dari asam lemak jenuh tersebut,” kata Nuri.

Keunggulan kelima, minyak sawit tidak melewati proses hidrogenisasi parsial. Berbeda dengan minyak kedelai harus melalui rangkaian hidrogenisasi parsial. Akibatnya muncul asam lemak trans yang dapat menyebabkan berbagai macam penyakit mulai dari obesitas, jantung koroner, hingga alzheimer.

“Oleh karena itu, minyak sawit tidak perlu proses hidrogenisasi parsial, maka risiko ini tidak muncul,” kata Puspo Edi yang juga dosen Biokimia Pangan pada Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB.

Di dalam minyak sawit terdapat pula kandungan vitamin A dan vitamin E yang cukup tinggi dan tertinggi dibandingkan dengan minyak nabati lain termasuk lemak hewan. (Qayuum)

You might also like More from author

1 Comment

  1. HBT Sudradjat says

    Dear Sawit Indonesia.

    Akuilah minyak itu lemak. Minyak sawit mengandung lemak jenuh 50%.

    Kokohkan hati anda berkata “lemak Jenuh tak ada hubungannya dengan penyakit jantung” seperti yang diungkapkan Siri Tarino dalam American Jurnal of Clinical Nutrition bulan Maret 2010 bahwa ” there is no significant evidence for concluding that dietary saturated fat is associated with an increased risk of CHD or CVD” Duapuluh satu penelitian yang mendukung kalimat di atas. Mana referensi ilmiah yang mengatakan lemak itu berbahaya?

    Bahkan Mozaffarian mengatakan “semakin banyak lemak jenuh diasup, semakin lebar pembuluh darah
    orang itu.” http://www.kompasiana.com/goodgrade/sate-berlemak-lebih-sehat-dibanding-ketupatnya_552fe1506ea8343f5a8b456d

    Dear Sawit Indonesia
    Anda punya uang, punya kebun terluas di dunia.

    Fight back, lemak jenuh itu sehat.
    ASI kandungan lemak jenuhnya 55%. Matikah bayi-bayi kita minum susu? Gandeng Nestle, ajak mereka buka mata bahwa susu berlemak tinggi itu sehat. Lihat suku Masai di Afrika yang hanya mengasup susu, lemak, darah walaupun kekurangan kalori, mereka tetap tinggi tak stunting. Walau tak pernah bersikat , gigi mereka tak ada yang kerowok.

    Gandeng pekebun kelapa kita. He santan kelapa memang mengandung lemak jenuh hingga 87 persen. Tapi lihat suku Tokelau di polinesia, asupan lemak jenuh mereka hingga 56%, tubuh mereka ramping, tak ada diabetes. Tak ada penyakit jantung.

    Gandeng peternak-peternak kita. Merekalah yang selalu diteriaki bahwa lemak hewanilah penyebab penyakit jantung. Tetapi lihat suku Eskimo (juga Masai) yang setiap hari makan lemak ternyata mereka tak mempunyai penyakit jantung.

    Gandeng juga bu Susi dari menteri maritim yang terkenal dengan anjuran ” Mari makan ikan, kalau tidak aku tenggelamkan kamu” Gorenglah ikan dengan minyak anda. Juga pakai santen kental. Mintalah orang dari kementerian ibu Susi belajar bahwa ” Cholesterol is not a nutrient of concern for overconsumption” seperti yang diadviskan dalam Scientific Report of the 2015 Dietary Guidelines Advisory Committee halaman 91 dari 572.

    Anda bisa menggerakkan Jusuf Kalla, Wakil Presiden Indonesia.
    Cobalah disenggol menteri kesehatan. Mana dasar penelitian yang menjadikan mereka menasehatkan bangsa Indonesia harus makan seimbang seperti Piramida Makanan?
    Lihatlah bangsa Amerika menjadi gemuk karena mengikuti piramida makanan sejak tahun 1977. Lihatlah statistik kegemukan dan statistik diabetes dimulai dari sana.

    .

Leave A Reply

Your email address will not be published.