Cegah Kebakaran, Minamas Plantation Libatkan Universitas Jambi

JAMBI,SAWIT INDONESIA– Minamas Plantation bekerjasama dengan Universitas Jambi menjadi partner akademisi dalam pelaksanan Desa Mandiri Cegah Api. Melalui kerjasama ini Universitas Jambi berbagi pengetahuan dan keahlian dalam menemukan solusi tuntas penanggulangan kebakaran lahan melalui pendekatan kemasyarakatan.

“Kami sangat bersyukur bekerjasama dengan Minamas Plantation. Semoga kerjasama yang kami lakukan dapat menolong masyarakat setempat mengatasi masalah kebakaran. Kolaborasi ini sejalan dengan Peraturan Daerah (Perda) dan Peraturan Gubernur (Pergub) Jambi tentang pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang melarang praktek pembukaan lahan dengan cara membakar,” ujar Prof. Johni Najwan, Rektor Universitas Negeri Jambi, pada Rabu (9/9/2017).

Bersama dengan UNJA, PT Bahari Gembira Ria (PT BGR) yang merupakan anak perusahaan Minamas Plantation di Jambi, akan memberdayakan 4 Desa, yaitu Desa Gambut Jaya, Desa Sumber Agung, Desa Parit dan Desa Arang-arang. Desa-desa ini termasuk kedalam daftar 731 desa yang dikeluarkan oleh pemerintah, sebagai area rawan kebakaran hutan dan lahan.

Nantinya, peneliti serta ilmuwan akan melakukan kegiatan pendampingan dan hidup di tengah-tengah masyarakat, mengidentifikasi daerah rawan kebakaran dan faktor-faktor terjadinya pembakaran lahan setiap tahunnya.

Kegiatan ini akan berjalan selama 6 bulan terhitung sejak bulan Agustus 2017 sampai dengan Januari 2018. Program ini akan meningkatkan kapasitas swadaya masyarakat dalam pencegahan kebakaran melalui tata kelola lahan dan pengaktifan kelompok sehingga pada akhirnya terwujud Desa-desa Mandiri Cegah Api di sekitar perkebunan kelapa sawit PT Bahari Gembira Ria.

Roslin Azmy Hassan, Head Plantation Operations Minamas Plantation menjelaskan bahwa peneliti dan tim ahli akan hidup bersama-sama ditengah-tengah masyarakat dalam waktu enam bulan. Masyarakat akan diberi pengetahuan mengenai ‘Sustainable Agriculture Management dan Zero Burning Technique (pembukaan lahan tanpa membakar/PLTB).

“Harapan kami mengubah pola pikir masyarakat mengenai tata kelola lahan. Hal ini sudah terbukti terjadi pada beberapa program sebelumnya. Program ini juga bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dan pengaktifan kelompok sehingga terwujud desa mandiri ramah lingkungan di sekitar kebun,”tambah Roslin.

Sebelumnya, Minamas Plantation menggandeng Universitas Riau dan Universitas Lambung Mangkurat dalam membina 15 Desa di Riau dan Kalimantan Selatan sehingga tercapai zero-burning, mendorong Minamas Plantation untuk terus membina desa-desa lain, khususnya di sekitar operasional perusahaan.

Program pencegahan kebakaran tahun 2015–2016 yang dilakukan Minamas Plantation, mencakup 15 desa di 2 provinsi yaitu Riau dan Kalimantan Selatan, serta tersebar di area seluas 45.543 ha, dengan populasi penduduk sebanyak 36.034. Dari hasil survey yang dilakukan sebelum pendampingan menunjukkan bahwa sekitar 76.63% masih melakukan praktik tebang dan bakar. Setelah adanya pendampingan, insiden kebakaran terbukti berkurang dari 40 titik api pada tahun 2013-2014 menjadi 1 titik api di tahun 2015-2016.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.