Cangkang Sawit Senilai US$ 1,5 Miliar Siap Dikapalkan ke Jepang

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Prospek bisnis cangkang sawit Indonesia kian bersinar terutama untuk permintaan ekspor ke Jepang. Baru-baru ini, ada kesepakatan kontrak pengapalan cangkang sawit senilai US$ 1,5 miliar untuk jangka waktu 10 tahun. 

“Sejak 3 tahun terakhir, Jepang menjadi salah satu negara yang pertumbuhan ekspornya naik 40%. Permintaan ekspor ke Jepang justru lebih didominasi oleh cangkang kelapa sawit. Mereka sedang gandrung dengan pembangkit listrik tenaga bio energi, dan sawit menjadi alternatif terbaik untuk sumber bioenergi,” terang Bayu Krisnamurthi Ketua Umum Perhimpunan Pertanian Indonesia (Perhepi) dalam jumpa pers di Jakarta, Senin (24/8).

Bayu mengatakan pengapalan tersebut menunjukkan bahwa ekspor produk sawit Indonesia tidak hanya untuk mengapalkan minyak goreng, olechemical dan biodiesel, tetapi juga produk cangkang sawit. Dalam hal ini, permintaan ekspor ke Jepang tengah mengerek energi baru terbarukan (EBT) dalam energi mix mereka, salah satunya dengan menggunakan bioenergi yang berasal dari cangkang sawit.

“Prospek sawit menjadi lebih terbuka di tengah kita menghadapi usaha mengelola harga CPO. Tapi kalau kita punya produk yang tidak berbasis cairan, kita akan tertolong,” katanya.

Bayu menyebut harga cangkang sawit sekitar US$ 80 per ton free on board (FOB) atau US$110-US$ 120 per ton untuk cost, insurance, freight (CIF). Dengan proyeksi permintaan CPO dari Indonesia mencapai 60 juta ton pada 2045, maka ada sekitar 7 juta-8 juta ton cangkang sawit dan 12-25 juta ton tandan buah kosong yang dapat dijual ke pasar global.

Menurut data Asosiasi Cangkang Sawit (Apcasi), pada 2016, jumlah ekspor cangkang sawit mencapai 1,6 juta ton, dengan ekspor ke Jepang sebesar 800 ribu ton. Rencananya, tahun ini ekspor cangkang sawit akan mencapai 1,8 juta ton dan ada penambahan ekpor ke Jepang hinga 1,3 juta ton.

Sebelumnya, delegasi Indonesia sempat berkunjung ke Jepang yaitu kota Tokyo dan Osaka untuk melakukan promosi dan diplomasi dagang produksi sawit pada 10-14 Juli 2017. Pertemuan tersebut mengikutsertakan Wakil Kementrian ESDM, Kementrian Perdagangan, BPDP Sawit, Perhepi, Aprobi, Apcasi dan perwakilan dari pengusaha sawit.

“Kunjungan tersebut membuktikan bahwa saat ini sektor energi semakin penting karena bukan hanya cair saja. Awalnya, produk sawit hanya minyak makan, kebutuhan industri serta kebutuhan kosmetik. Hal ini akan menjadi masa depan sawit Indonesia ke depan,” tutupnya.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.