50 Perusahaan Perancis Diajak Investasi di Indonesia

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – 50 Pengusaha asal Perancis yang tergabung dalam Mouvement des Entreprises de France (MEDEF) diajak untuk berinvestasi di Indonesia dalam berbagai sektor antara lain industri galangan kapal, perawatan pesawat, dan kereta api.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto yang bertemu dengan sekitar 50 pimpinan perusahaan asal Perancis) mengundang mereka berinvestasi di Indonesia. “Mereka lebih banyak ingin mengetahui peluang dan kepastian hukum untuk berinvestasi di Indonesia serta kebijakan di sektor industri seperti impor barang,” kata Menperin usai bertemu dengan Presiden MEDEF Pierre Gattaz beserta delegasi dan Duta Besar Perancis untuk Indonesia JeanCharles Berthonnet di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Senin (20/2) seperti dilansir dari rilis kementerian.

Pada pertemuan tersebut, Airlangga menjelaskan, pemerintah Indonesia berkomitmen menciptakan iklim investasi yang kondusif serta kemudahan berusaha melalui deregulasi dan paket kebijakan ekonomi yang telah diterbitkan. “Kami optimistis, perekonomian di Indonesia akan lebih membaik tahun ini. Apalagi adanya penurunan harga gas industri dan harga komoditas mulai bangkit,” tuturnya.

Airlangga juga menyampaikan beberapa kawasan industri di Tanah Air yang siap diisi oleh investor karena telah didukung dengan fasilitas penunjang seperti pelabuhan dan infrastruktur lainnya. “Misalnya, mereka yang ingin mengembangkan industri galangan kapal, kami tawarkan di kawasan industri Bitung, Sulawesi Utara. Kemudian, untuk pengembangan industri perawatan pesawat atau MRO, bisa di kawasan industri Bintan, Kepulauan Riau,” sebutnya.

Di samping itu, lanjut Airlangga, terdapat Kawasan Industri Sei Mangke, Sumatera Utara yang difokuskan pada pengembangan oleo chemical, Kawasan Industri Dumai, Riau dan Kawasan Industri Berau, Kalimantan Timur yang akan dibangun menjadi Palm Oil Green Economic Zone (POGEZ), serta Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah dan Kawasan Industri Konawe, Sulawesi Tenggara yang menjadi pusat pengembangan industri smelter berbasis nikel.

“Dalam tiga tahun ke depan, kami juga mendorong percepatan pembangunan kawasan industri di Tanjung Buton, Tanah Kuning, Gresik, Kendal, dan Serang,” ungkap Airlangga. Hingga saat ini, sebanyak 73 kawasan industri yang telah beroperasi di seluruh Indonesia.

Airlangga sempat mengutip data Organisasi Pembangunan Industri PBB (UNIDO), yang menunjukkan nilai tambah industri Indonesia pada 2015 berkontribusi 1,93 persen terhadap nilai tambah industri dunia. Nilai ini sama dengan Inggris serta lebih besar dari kontribusi Rusia (1,77 persen), Meksiko (1,70 persen), dan Kanada (1,45 persen).

Menperin berharap, peningkatan investasi ini akan menambah kemitraan pelaku industri Indonesia dan Perancis. “Contohnya, Airbus dengan PT DI. Saat ini, juga tengah dijajaki kerja sama Airbus dengan Lapan dalam pembangunan pusat enjiniring. Untuk pengembangan kereta api, bisa dengan PT INKA. Selain itu, Michelin akan meningkatkan akses pasar di Indonesia untuk membangun bisnis retreading dan bisnis ban bekas,” ujarnya.

 

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.