4 Peneliti Sepakat Sawit Penyelamat Kerusakan Hutan

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Hadirnya perkebunan kelapa sawit membantu Indonesia dalam upaya perbaikan kerusakan hutan yang terjadi semenjak 1980-an akibat ilegal logging dan pemanfaatan hak pengusahaan hutan (HPH). Fakta ini disampaikan sejumlah empat peneliti dalam diskusi publik di Jakarta, Jumat (31/3).

Guru Besar Fakultas Pertanian IPB Prof Dr Supiandi Sabiham menjekaskan deforestasi sudah berlangsung sebelum tahun 1960-an dan puncaknya terjadi 1980-an hingga 1990-an pada saat transmigrasi dan Hak Pengusahaan Hutan (HPH) berkembang pesat. Sedangkan sawit muncul jauh sesudah kerusakan hutan terjadi, yakni setelah tahun 2000-an.

“Saya melihat fakta yang ada bahwa sawit bukan penyebab deforestasi, justru sebagai penyelamat deforestasi. Kerusakan hutan berlangsung sejak zaman Belanda. Ini artinya sawit muncul sesudah kerusakan hutan terjadi,” jelasnya.

Dr. Ir. Petrus Gunarso, MSc. Dewan Pakar Persatuan Sarjana Kehutanan Indonesia (Persaki) menjelaskan pada 1990-2010 berdasarkan penelitiannya perkebunan sawit di Indonesia, Malaysia dan Papua. Hasilnya bahwa 63 juta ha adalah kawasan APL, hutan produksi (HP) seluas 77, 38 juta ha, hutan konservasi (HK) 21,17 juta ha, hutan lindung (HL) 32,06 juta ha, HTI (bagian dari HP) 4,5 juta ha, kelapa sawit dalam APL  4,5 juta, kelapa sawit dalam kawasan hutan yuridis-politis sebesar 4,8 juta ha.

“Paling besar 63 juta ha adalah wilayah APL, dan itu tidak salah dan bukan wilayah deforestasi arena sudah ada rencana untuk kawasan tersebut,” tambahnya.

Menurutnya perkebunan sawit di Sumatera memiliki persentase rendah menggunakan kawasan hutan primer. Pada tahun 2000, luas hutan primer 5,6 juta dan kawasan sawit 2,8 juta, sementara tahun 2005, luas hutan primer naik menjadi 6,03 juta dan kawasan sawit 3,98 juta. Pada tahun 2010, luas hutan primer turun sedikit menjadi 5,489 juta dan perkebunan sawit naik menjadi 4,71 juta.

“Memperlihatkan luasan hutan dan perkembangan sawit di Sumatera tidak bersinggungan langsung dengan hutan primer,” katanya.

Prof Dr Yanto Santosa DEA Guru Besar Fakultas Kehutanan lPB mengatakan, sawit bukan merupakan penyebab deforestasi di Indonesia. Pasalnya, lahan perkebunan kelapa sawit yang ada di Indonesia tidak berasal dari kawasan hutan. “HPH itu bukan deforestasi, tapi degradasi. Kalau berubah menjadi non hutan maka itu adalah deforestasi. Jika bicara konteks hukum, perubahan hutan ke sawit, itu bukanlah deforestasi,” ungkapnya.

Deforestasi, kata Prof Yanto, diartikan perubahan secara permanen dari areal berhutan menjadi tidak berhutan yang diakibatkan oleh kegiatan manusia.

Sementara itu, Prof Chairil Anwar Siregar PhD Pakar Hidrologi dan Konservasi Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan  menyatakan tidak benar jika sawit merupakan tanaman yang mengganggu sawit puny keunggulan produktivitas dan paling efisien dalam pemakaian air. Sama halnya dengan  penyerapan karbon stok lebih tinggi daripada kedelai.

“Dosa sawit karena tidak bisa tumbuh di Eropa. Kalau tumbuh di Eropa maka perdebatan soal sawit bisa selesai,”pungkasnya.

 

You might also like More from author

7 Comments

  1. ibra ibrahim says

    Mereka liat hutan tw bukan hanya berpatokan pada status kawasan… APL dianggapnya bukan hutan, KBK yang dianggapnya hutan… padahal kawasan dengan status APL banyak sekali yang berhutan… klo APL bukan hutan kenapa setiap izin perkebunan sawit pasti terbit IPK kayu…. ratusan ribu kubik kayu log bisa keluar di izin perkebunan sawit… peneliti ngawur….

    1. Setyo says

      IPK adalah wajib bagi kegiatan land clearing dengan menghitungvpotensi tegakan 10 cm up. Tujuannya adalah penerimaan negara bukan pajak. Mau kayunya dipakai atau tidakvtetep harus membayar pnbp tersebut untuk diameter 10 cm up. Penetapan status kawasan adalah berdasarkan keputusan menteri. Bisa saja kawasan hp tapi tidak ada hutannya dan kawasan apl malah berhutan. Tanyakan ke menteri. Tapi penggunaan sesuai peruntukan masing masing kawasan teraebut.

      1. Bob Aditya says

        Tapi bisanya dalam hal ini mas, mereka2 perkebunan sering main di RTRW daerah, sehingga lahan yang seharusnya bukan untuk perkebunan bisa saja mereka ubah jadi perkebunan. Menteri tidak akan tahu, Kepala daerah yang lebih tahu dalam hal ini. Miris, setelah belajar perkebunan dan lahan.
        Mengenai pohon, saya baru tahu ada pembayaran begitu, kalau memang hutan alami, biasanya tidak di ijinkan, karena RTRW berubah, jadi bisa lancar dalam melakukan pembukaan lahan.

  2. Widhyanto says

    Pertama, saya mau bertanya, memang di APL tidak ada hutan? Dan kenyataannya setelah hutan rusak banyak kawasan hutan di APL-kan. Kedua, kawasan hutan yang disebutkan memangnya berapa persen yang berhutan, lantas apakah kawasan tak berhutan itu ditanam sawit dan sawit jadi penyelamat. Ketiga, 4 peneliti ini artinya setuju dengan rejim pengaturan hutan selama ini? Kalau tidak apa yang bisa menyelamatkan hutan di Indonesia? Sebab setelah banyak kebakaran hutan, banyak juga bibit sawit. Setahu saya sawit mulai masif sejak tahun 1993.

  3. Abinaya says

    Wah IPB dgn para guru besarnya dihina macam gini. Biasanya orang sombong yang bicaranya terlalu tinggi, justru tidak ada apa-apanya. Rupanya punya uang banyak sekali sampai bisa bayar2 macam2 biaya. Dapatnya dr mana? Apakah dr donor asing?

  4. ariez says

    suruh tinggal daerah kampung yg berbatasan langsung dg sawit minimal 5 tahun…
    itu baru bener2 peneliti…
    kita liat hasil penelitian bapak2 yg “pintar” ni apa setelah 5 taun tinggal dsitu masih sama hasilnya…
    😊😊😊😊 profesor looooo….

  5. dzakwan febriansyah says

    Sebagian besar isu-isu sekitar deforestasi (yang mengarah ke perusakan lingkungan).

    Namun perlu dicatat bahwa minyak sawit adalah tanaman minyak yang paling efisien, 10 kali lebih efisien daripada kedelai. Ini berarti bahwa dibutuhkan 10 kali lebih banyak lahan untuk menghasilkan jumlah yang sama minyak dari kedelai yang dibutuhkan dari minyak sawit.

    Selanjutnya, perkebunan kelapa sawit adalah pohon hutan hujan hujan yang paling efektif dalam penyerapan karbon dioksida dan radikal bebas

    dan

    kelapa sawit sudah menjadi salah satu produksi minyak nabati terbesar di dunia, secara luas digunakan dalam pengolahan makanan besar, memasak dan makan bidang produksi bio-diesel.

    produksi minyak sawit indonesia di ekspor, masing-masing, menyumbang sekitar 90% dari total dunia,
    indonesia adalah produsen kelapa sawit terbesar di dunia minyak dan pengekspor industri kelapa sawit telah menjadi bagian penting dari pembangunan ekonomi Indonesia.

    dan 30% dari pasar energi dunia setelah minyak bumi, beruntungnya bio solar adalah energi yang dapat terus diperbarukan

    Minyak kelapa sawit adalah bagian penting dari pasar minyak dunia!

Leave A Reply

Your email address will not be published.