TATA AIR LAHAN GAMBUT UNTUK MANAJEMEN BANJIR DAN KEKERINGAN DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT (Bagian Kedua)

 

Pengaturan tinggi muka air di saluran drainase (tidak melebihi 40 cm di bawah permukaan tanah/piringan sesuai PP No 71 tahun 2014) merupakan salah satu kunci tata air di perkebunan kelapa sawit karena berfungsi:

  • Menjaga kebasahan gambut.
  • Mencegah keruntuhan jalan. Jalan sangat mahal konstruksinya di lahan gambut dan usaha mempertahankan waktu layanannya merupakan salah satu prioritas utama budidaya.
  • Mengurangi laju penurunan muka tanah (land subsidence).

Akibat dari penurunan muka tanah yang berlebihan:

  • Penurunan muka tanah di daerah hilir gambut mengakibatkan di masa mendatang tinggi muka tanah gambut berada di bawah permukaan sungai sehingga lahan gambut menjadi kurang ekonomis menjadi lahan budidaya.
  • Pohon menjadi lebih mudah miring dan rubuh.
  • Mengurangi risiko defisiensi hara Cu. Pupuk untuk mineral ini relatif mahal dan jika defisiensi terlambat dikoreksi bisa mengakibatkan kematian tanaman.
  • Mencegah teroksidasinya lapisan berpirit (di lahan gambut sulfat masam). Teroksidasinya lapisan berpirit mengakibatkan keracunan tanaman. Khusus lahan gambut sulfat masam, aliran temporer yang berasal dari pasang sungai diatur untuk memudahkan pencucian lahan dan mengatasi kekeringan.
  • Menjaga muka air yang terjaga di saluran drainase, terutama pada musim kering, berfungsi sebagai sekat bakar alami untuk mengurangi kemungkinan perambatan api antar blok.

Bangunan utama yang berfungsi untuk mempertahankan tinggi muka air adalah sekat kanal dan pintu air. Berdasarkan best practice yang dikeluarkan RSPO (2013), setiap penurunan muka air 20 cm dalam collection drain dibuat 1 sekat kanal, namun optimasi jumlah dan penempatan sekat kanal haruslah berdasarkan:

  • Peta kontur detail
  • Kecepatan aliran air
  • Peta arah aliran air di sistem drainase selama musim kering dan musim hujan
  • Peta historis banjir, kekeringan dan kebakaran (bila ada)
  • Data/informasi tinggi muka air maksimum dan minimum sungai, serta tinggi banjir maksimum dan minimum di masing – masing blok yang terdampak
  • Data laju penurunan muka tanah (land subsidence)
  • Data monitoring harian tinggi muka air di parit primer (main drain) dan sekunder (collection drain)

Perlu ditekankan bahwa pengendalian struktural, contohnya dengan pembangunan bangunan air (Tabel 1) di lahan gambut harus mempertimbangkan aspek geoteknik, karena karakteristik geoteknik lahan gambut yang sangat jelek. Setiap bangunan air yang dibangun harus dikonsultasikan dengan ahli geoteknik, terutama flood basin (waduk banjir), water gate (pintu air) dan dyke (tanggul). Sekat kanal dapat dibangun berdasarkan best practices setempat, namun jika dibangun massal dalam waktu singkat, penentuan dimensi optimum harus dilakukan dengan konsultasi kepada ahli geoteknik.

Catatan:

  • Artikel ini merupakan artikel pribadi penulis, dan bukan mewakili pandangan institusi tempat penulis bekerja atau mengajar.
  • Penulis tidak bertanggung jawab secara teknis, hukum dan finansial atas penggunaan isi dan rekomendasi dalam artikel ini, baik untuk kultur teknis perkebunan, konservasi dan penggunaan lain, jika terjadi kerugian finansial serta timbulnya masalah teknis, sosial maupun hukum.
  • Dilarang mengutip dan mempublikasikan bagian atau keseluruhan dari artikel ini tanpa seijin tertulis dari penulis.
  • Tulisan ini terbagi atas dua bagian. Bagian pertama dimuat di Majalah Sawit Indonesia edisi 15 April-15 Mei 2016. Bagian kedua akan dilanjutkan Majalah Sawit Indonesia edisi 15 Mei-15 Juni 2016.
  • Artikel ini disusun berdasarkan pengalaman penulis sebagai praktisi dan akademisi di bidang tata air

*Penulis lulusan Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung dan Agriculture and Bioresource Engineering Wageningen University, Belanda

(Selengkapnya Majalah SAWIT INDONESIA Edisi 15 April-15 Mei 2016)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.