PROGRAM BIODIESEL MENYUBURKAN PASAR CPO

Oleh : Ir.H.Said Nizam Luthfi, MM

Abstract

Palm oil is the favorite products for renewable energy biofuel. Indonesia’s important role related to renewable energy was increasingly becoming a necessity. As the largest palm oil producer in the world, Indonesia is still facing challenges. Although, the development of palm oil are now adhering to the concept of sustainable development. The concept of sustainable development for oil palm plantations into one of the strategic attention.  Even so, that there is still a challenge for Indonesia oil palm related. Increased production of oil palm Indonesia Indonesia making opportunities become important country for raw material producers of food and medicine.

Pendahuluan

Rencana penanaman kembali (replanting) lahan sawit menjegal laju harga minyak sawit mentah (CPO). Meski demikian, prospek harga tahun ini masih ranum seiring dengan adanya kebutuhan biodiesel di dalam negeri.

Sejatinya, pasar minyak sawit diselimuti sentiment positif. Ada optimisme permintaan program biodiesel Indonesia akan terus meningkat, per Januari 2016 PT Pertamina telah membeli 230.000 kiloliter biodiesel. Angka itu naik dari periode sama tahun lalu, 87.000 kiloliter.

Muncul kekhawatiran tambahan pasokan minyak sawit dari Indonesia. Pasalnya, ada rencana penanaman kembali seluas 100.000 ha lahan sawit. Tapi, sentiment negatif ini hanya sesaat. Kenaikan pasokan baru terlihat tiga hingga empat tahun lagi. Jika program biodiesel pemerintah berhasil, maka permintaan CPO akan terus bertumbuh. Itu sebabnya, peluang harga CPO diperkirakan bisa mencapai level RM 3.000-3.250 pada akhir tahun ini.

Harga minyak sawit mulai membaik, pada transaksi minggu ketiga Maret 2016 harga minyak sawit mentah (CPO) di Malaysia Derivative Exchange menguat 0,52% menjadi RM 2.712 atau US$ 664,70 per metrik ton. Ini merupakan level harga tertinggi dalam dua tahun. Dibandingkan akhir 2015, harga sudah tumbuh 6%. Kenaikan harga CPO merembet ke pasar modal. Harga saham sejumlah emiten CPO di Bursa Efek Indonesia menanjak. Sejak awal tahun hingga kemarin atau year-to-date (ytd), enam dari 10 saham emiten CPO rata-rata naik 30%. 

Kenaikan harga minyak mentah menyulut harga CPO, namun yang tetap diperhatikan bahwa  setiap kenaikan harga CPO bisa memunculkan aksi profit taking, meski banyak investor masih menunggu laporan keuangan emiten tahun 2015 yang dirilis hingga akhir bulan ini.

Perlu juga dipertimbangkan bahwa faktor cuaca ikut mendukung penguatan harga CPO. Selama tak ada banjir, harga CPO bisa terus menguat. Kenaikan saat ini bukan didorong meningkatnya permintaan, melainkan banyak produsen menghentikan produksi akibat terkendala penjualan. 

Kenaikan harga CPO berpotensi terus berlangsung hingga akhir tahun ini,  namun masih ada faktor yang mempengaruhi volatilitas harga, utamanya pasokan dan permintaan CPO, serta pemulihan ekonomi global. Penguatan harga CPO saat ini masih bersifat jangka pendek. Harga CPO, selama permintaan Tiongkok belum pulih, maka lajunya tidak akan naik signifikan. Permintaan CPO diperkirakan baru pulih dalam dua hingga tiga tahun ke depan.

Perkembangan ekonomi Tiongkok belum pulih, jika Tiongkok beIum ada perubahan, pemulihan harga CPO bisa semakin lama. Yang jelas, faktor utama yang bakal mempengaruhi harga CPO pada tahun ini masih seputar pasokan dan permintaan, disamping  faktor cuaca dan nilai tukar. Harga CPO berpeluang mencapai RM 2.750-2.850 per metrik ton pada Maret hingga Mei 2016. 

Analisa Asia Tradepoint Futures, harga CPO mendapat dorongan positif dari program biodiesel. Hasil analisis CIMB menunjukkan, untuk program biodiesel tahun ini, dana CPO Fund berpotensi meningkat hingga Rp 15,9 triliun dibandingkan tahun lalu, yakni Rp 534 miliar. 

Ekspor bisa pulih

Walaupun permintaan CPO domestik tumbuh, permintaan dari pasar global masih lesu. Indikasinya, ekspor CPO Indonesia ke China bulan Januari 2016 anjlok 56% dibanding bulan sebelumnya. Ekspor ke India juga turun 15%.

Meski demikian kita tetap optimistis, angka ekspor terutama ke India dan China akan berangsur pulih. Sebab, pada kuartal IV-2015 India menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia. China juga sedang menggenjot strategi untuk mendorong perekonomian. Diversifikasi kebutuhan untuk biodiesel bisa menahan sentiment negatif dari pelemahan permintaan China.

Minyak kelapa sawit adalah produk favorit untuk energi terbarukan biofuel. Peran penting Indonesia terkait energi terbarukan itu pun kian menjadi keniscayaan.

Sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia, Indonesia masih menghadapi tantangan. Meski, sebagaimana catatan Kementerian Pertanian, pengembangan kelapa sawit saat ini sudah mengikuti konsep pembangunan berkelanjutan.

Konsep pembangunan berkelanjutan bagi perkebunan kelapa sawit menjadi salah satu perhatian Kementerian Pertanian. Informasi dari laman ditjenbun.pertanian.go.id hari ini menunjukkan bahwa ada perencanaan dan realisasi kegiatan Inisiatif Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan (ISPO) meliputi lima komponen strategis. Secara berurutan, kelima komponen itu adalah :

  • Pertama, memperkuat pelaksanaan sertifikasi ISPO bagi pekebun terutama dalam pelaksanaan praktik pertanian yang baik (Good Agricultural Practices/GAP) dan pelestarian lingkungan.
  • Kedua, memperkuat ISPO untuk pelestarian hutan, meningkatkan konservasi keanekaragaman hayati dan mitigasi, serta mengurangi emisi gas rumah kaca.
  • Ketiga, memfasilitasi dalam memediasi permasalahan/perselisihan dan pemberdayaannya.
  • Keempat, memperkuat sistem dan standar ISPO sehingga dapat diakui dan mendapat dukungan serta diterima masyarakat lebih luas.
  • Kelima, mewujudkan platform nasional dan provinsi dalam memastikan transparansi dan mempromosikan kelapa sawit berkelanjutan.

Komoditas Strategi

Pada saat Konferensi Kelapa Sawit Indonesia (IPOC) 2015 yang telah berlangsung di Bali pada 25 November 2015 – 27 November 2015 menunjukkan bahwa kelapa sawit adalah komoditas strategi. Kelapa sawit dan turunannya mencatatkan devisa bagi Indonesia rata-rata Rp 250 triliun. “Secara organisasi, industri kelapa sawit sudah kuat,”  

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia yang dalam kesempatan itu menjadi penyelenggara konferensi menunjukkan bahwa sampai dengan tahun 2014, produksi minyak kelapa sawit asal Indonesia mencapai angka 31,5 juta ton. Dari jumlah itu, sebanyak 21,7 juta ton yang diekspor. 

Kendati begitu, bahwa masih ada tantangan bagi Indonesia terkait kelapa sawit. Peningkatan hasil produksi kelapa sawit Indonesia membuat peluang Indonesia menjadi negara penting bagi produsen bahan baku makanan dan obat-obatan.

Konsekuensinya, negara-negara industri besar seperti Amerika Serikat dan Eropa memunyai ketergantungan terhadap Indonesia. Peningkatan 10 persen produksi kelapa sawit Indonesia akan membuat para produsen bahan baku makanan dan obat-obatan di Amerika Serikat tergantung hingga 12 persen. Lantaran itulah, Amerika Serikat punya kecenderungan memusuhi pertumbuhan kelapa sawit Indonesia.

Belum lagi, minyak kelapa sawit adalah produk favorit untuk energi terbarukan biofuel. Peran penting Indonesia terkait energi terbarukan itu pun kian menjadi keniscayaan.

(Selengkapnya silakan baca di Majalah SAWIT INDONESIA Edisi 15 Juni-15 Juli 2016)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.