Manager Profesional Yang Berintegritas Sebagai Penyelamat Perusahaan Sawit

Latar Belakang, Tulisan ini kami sajikan dilatarbelakangi dengan banyaknya kejadian yang berhubungan dengan rendahnya integritas karyawan, mulai dari level manager hingga karyawan harian lapangan. Integritas yang dimaksud adalah kejujuran dan kepedulian karyawan terhadap besar kecilnya biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk membiayai berbagai macam item biaya. Ada sebuah pilihan yang kerapkali harus kita pilih  antara memilih karyawan yang cakap di bidangnya (profesional) namun tidak memiliki integritas dalam hal ini kejujurannya rendah, atau memiliki karyawan yang tidak cakap dibidangnya (tidak profesional), namun memiliki kejujuran yang tinggi atau tidak diragukan lagi kejujurannya. 

Harapan kita tentu menginginkan karyawan yang profesional dan memiliki kejujuran yang tinggi. Tentu saja untuk mencapai itu kita bisa dapatkan berbagai macam pelatihan diadakan serta berbagai macam seleksi masuk karyawan dilakukan, yang pada akhirnya ingin mendapatkan seorang yang memiliki kemampuan terbaik dibidangnya dan memiliki kejujuran serta kepedulian untuk memajukan perusahaan.

Salah satu jenis pekerjaan yang terdapat di perkebunan kelapa sawit adalah kegiatan panen  atau potong buah. Kegiatan potong buah merupakan jenis pekerjaan yang sangat penting dan sangat menentukan seberapa besar keuntungan yang akan diperoleh sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit, sehingga pengelolaan dalam melaksanakan kegiatan potong buah harus dilakukan secara detil dan professional. 

Dengan kata lain kita harus mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat menyebabkan terjadinya kerugian dan faktor-faktor apa saja yang dapat mendukung peningkatan produktivitas potong buah, dengan mengetahui kedua hal tersebut maka kita dapat menyusun berbagai macam rencana, agar produktivitas semakin meningkat dan dengan diikuti penurunan tingkat losses ( kerugian) yang terjadi.

Tujuan dari penulisan ini adalah melakukan analisa terhadap pelaksanaan potong buah yang dilakukan pada salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit  selanjutnya dilakukan evaluasi kelebihan dan kekurangan terhadap pelaksanaan potong buah yang terjadi,

2. Tahapan Pekerjaan Panen (Potong Buah)

Pekerjaan potong buah (panen) merupakan rangkaian kegiatan yang satu sama lain saling terkait. Adapun tahapan pekerjaan panen meliputi :

a. Perhitungan kebutuhan tenaga panen

b. Penyusunan seksi panen ( kavel panen )

c. Taksasi panen

d. Pelaksanaan panen

e. Pengangkutan buah ke PKS

f. Pelaporan administrasi panen

2.a   Perhitungan kebutuhan tenaga panen

Kebutuhan  tenaga panen yang tercukupi sangat menentukan terhadap keberhasilan pencapaian target produksi yang telah ditetapkan. Parameter keberhasilan tidak hanya  berdasarkan penilaian target produksi namun juga diukur berdasarkan kualitas panen serta biaya panen yang telah digunakan, apakah biaya panen termasuk efisien atau non efisien. Kemampuan melakukan analisa biaya harus dimiliki oleh setiap planters, mulai dari level estate manager hingga level asisten (kepala afdeling ). Guna memenuhi kebutuhan tenaga panen perlu dilakukan perhitungan yang cermat dan detil. Kebutuhan tenaga panen harus mempertimbangkan kondisi normal dan kondisi peak season (panen puncak). Ketepatan dalam memperhitungkan kebutuhan tenaga kerja ditentukan oleh beberapa kelengkapan data  yaitu :

1.Data luasan  tanaman menghasilkan

2.Umur tanaman menghasilkan

3.Homogenitas tanaman (perbandingan pokok utama  dan pokok sisip)

4.Jumlah pokok/ Ha SPH di blok

Pada umumnya perbandingan jumlah tenaga panen dengan luasan lahan adalah 0,08 Hk/Ha atau 0,06 Hk/Ha, sehingga ketepatan data luasan lahan tanaman menghasilkan (TM)  sangatlah penting sebagai dasar penetapan jumlah tenaga kerja panen yang dibutuhkan. Dalam kondisi normal, perusahaan bisa  menetapkan  norma tenaga kerja panen 1:15, namun dalam kondisi peak season norma tersebut dapat diubah berdasarkan atas kerapatan panen yang terjadi. Antisipasi menghadapi peak season sudah harus kita lakukan minimal 1-2 bulan sebelumnya, dengan persiapan yang lebih matang. Begitu pula sebaliknya jika terjadi kondisi buah trek ( buah sangat sedikit ) maka kita sudah dapat mengantisipasi, antara lain dengan cara mempekerjakan sebagian tenaga panen untuk melakukan pekerjaan tunas periodik. Adapun yang terjadi di perusahaan tersebut adalah keterlambatan antisipasi  menghadapi peak season, kerapatan buah sangat tinggi. Kondisi ini berakibat kepada permasalahan yang saling berkaitan satu sama lain antara lain jumlah tenaga kerja tidak mencukupi sehingga  rotasi potong buah meningkat terjadi buah over ripe, brondolan meningkat baik yang segar maupun brondolan busuk. Out put pemanen juga semakin rendah karena mereka harus mengutip brondolan yang ada di piringan, sehingga kecepatan pemanen dalam memanen semakin lambat, bahkan kualitas panen juga mengalami penurunan dengan banyak ditemukan  brondolan yang tidak dikutip oleh pemanen di piringan. Brondolan busuk meningkat karena teknik pengangkutan TBS tidak bersamaan dengan pengangkutan brondolan, akibatnya banyak terdapat brondolan yang telah dikutip di TPH dan dimasukkan kedalam karung tidak terangkut akibatnya banyak brondolan busuk yang terdapat dikarung dan tidak layak untuk dikirimkan ke PKS karena akan meningkatkan Freea Fatty Acid (FFA). Peningkatan FFA akan menurunkan harga jual CPO sehingga keuntungan perusahaan menjadi berkurang.

Umur tanaman juga berpengaruh terhadap jumlah tenaga yang dibutuhkan, hal ini berkaitan dengan berat janjang rata-rata buah (BJR), semakin tua umur tanaman, umumnya BJR semakin tinggi, sehingga kemampuan pemanen mencapai  basis semakin mudah, namun untuk tanaman yang memiliki BJR rendah atau kecil umumnya kemampuan pemanen untuk mencapai basis semakin sulit, namun cover luasan panen yang dicapai semakin luas, sehingga kebutuhan pemanen juga tidak sebesar dibandingkan kebutuhan tenaga panen pada tanaman yang tahun tanamnya tua.

Homogenitas tanaman (keseragaman umur tanaman) juga sangat berpengaruh terhadap perhitungan kebutuhan tenaga panen, semakin homogen maka perhitungan jumlah tenaga panen tidak akan mengalami deviasi (penyimpangan) yang besar. Namun sebaliknya jika terdapat heterogenitas umur tanaman yang sangat besar, maka akan berpengaruh terhadap perhitungan jumlah tenaga panen.

Perbandingan pokok/ha, satuan pokok hektar (sph) di sebuah lahan akan dapat menentukan potensi buah yang terdapat di lahan tersebut, sehingga semakin sesuai dengan standar baku sph (136-143)/ ha, maka semakin mudah memperhitungkan kebutuhan tenaga  panen. Apabila jumlah rata-rata sph di bawah standar, tentu saja kebutuhan tenaga panen tidak sebanyak dengan tenaga panen pada wilayah yang memiliki sph standar.

2.b. Penyusunan Seksi Panen ( Kavel panen)

Ketepatan penyusunan seksi panen merupakan faktor terpenting yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pelaksanaan panen. Pembagian seksi panen harus mempertimbangkan luasan lahan yang ada, sehingga rotasi panen dapat dipertahankan selalu dalam kondisi yang normal yaitu 7-9 hari dengan harapan TBS yang dipanen dan dikirim ke PKS adalah TBS yang segar. Penyusunan seksi panen juga harus mempertimbangkan jarak lokasi panen dengan lokasi perumahan karyawan panen, sehingga guna memberikan kenyaman dalam bekerja bagi pemanen, biasanya khusus hari sabtu, penetapan seksi panen dihari sabtu disesuaikan dengan lokasi yang terdekat dengan perumahan karyawan, hal ini dimaksudkan agar mereka dapat selesai lebih cepat dan esok hari minggu mereka dapat memanfaatkan waktu istirahat secara tenang dan optimal, sehingga ketika hari senin mereka akan lebih bersemangat lagi dalam bekerja.

(Bersambung ke bagian II)

 

 

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Hi there! Click one of our representatives below and we will get back to you as soon as possible.

Customer Services on WhatsApp