Ria Amalia Musiawan, Vice President Indonesian Gastronomy Association

Menjadikan Gastronomi Bagian Diplomasi

Saat ditemui di konferensi pers Seminar Gastronomi di Jakarta beberapa waktu lalu, Ria Musiawan mengaku sebagai Gastronom yang mempunyai ciri-ciri pecinta makan, pencicip makanan dan penilai makanan. Gastronom merupakan sebutan anggota Gastronomi.

Tentunya, dari pengalaman sering mencicip makanan dapat mudah menilai makanan bisa menjadi bahan cerita saat bertemu dan bersosialisasi. Banyak daerah-daerah di Indonesia mempunyai makanan khas yang sangat menarik dan perlu untuk dieksplor dan disampaikan ke masyarakat luas agar semakin dikenal.

Menurut Ria, membahas Gastronomi di Indonesia cukup menarik karena banyak varian makanan dan setiap makanan yang ada di daerah mempunyai cerita. “Apabila cerita itu disampaikan pada orang asing akan berdecak kagum karena banyak hal yang menarik dari cerita makanan Indonesia,” ucap Ria Musiawan.

Banyaknya ragam makanan dengan segala keunikaannya yang ada di Indonesia perlu disampaikan baik ke masyarakat nasional maupun internasional. Untuk itu, melalui Seminar Gastronomi yang akan digelar di tahun mendatang oleh Indonesia Gastronomi Association (IGA) yang melibatkan banyak pihak menjadi ajang untuk mengenalkan makanan khas Indonesia.

Kini, Gastronomi menjadi bagian tidak terpisahkan dari khasanah pariwisata di Indonesia. Sajian khas makanan daerah yang ada di tempat wisata mampu menambah daya tarik wisatawan.

Fakta diatas mengacu pada defisini Gastronomi yang diterjemahkan oleh Fossali, Gastronomi sebagai ilmu yang mempelajari tentang keterkaitan antara budaya dan makanan. Makanan adalah salah satu produk budaya. Membahas makanan yang dikonsumsi manusia tidak sesederhana memasukkan makanan ke dalam mulut dan membuat perut menjadi kenyang.

Lebih dari itu, makanan memiliki fungsi sosial-budaya yang berkembang dalam suatu masyarakat sesuai dengan keadaan lingkungan, agama, adat, kebiasaan, dan tingkat pendidikan. Makanan yang disajikan merupakan hasil dari adaptasi manusia terhadap lingkungan di sekitarnya. Sebagai produk budaya, makanan tidak hanya dilihat secara fisik saat dihidangkan, tetapi dipelajari secara menyeluruh di setiap proses pembuatannya, mulai dari penyediaan dan pemilihan bahan baku, memasak, sampai menghidangkannya di meja makan sebagai rangkaian kegiatan budaya.

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like