Namun berbeda halnya dengan SBO, dimana pada priode 1999-2009, konsumsi naik 6 persen per tahun atau rata-rata bertambah 105 ribu ton per tahun, sedangkan tahun 2009-2016, menurun 115.000 ton per tahun, atau trend negatif 4,26 persen per tahun. Komsumsi SFO cenderung konstan selama priode 1999 hingga 2016, dengan rata-rata konsumsi 2,4 juta ton per tahun. Pada kurun waktu 2009-2016, pola konsumsi rapeseed oil naik 27 persen menjadi 42 persen, diikuti minyak sawit (CPO) naik 27 persen menjadi 31 persen, sunflower oil turun dari 21 persen menjadi 18 persen dan minyak kedele turun dari 18 persen menjadi 9 persen.

Jika dibandingkan dengan kemampuan domestik memenuhi minyak nabati, diperoleh fakta bahwa rata-rata pertumbuhan (growth) produksi domestik minyak nabati Uni Eropa adalah 2,8 persen per tahun, sedangkan laju pertumbuhan konsumsi jauh lebih besar, yakni 4,8 persen. Keadaan ini menciptakan kondisi widening gap atau kesenjangan yang semakin melebar antara produksi dan konsumsi. Untuk memenuhi kebutuhan domestik, karena jumlahnya cukup besar, maka tidak ada pilihan lain selain kebijakan impor.

Sekitar dua per tiga konsumsi domestik mampu dipenuhi oleh produksi domestik, dan sekitar sepertiga, Uni Eropa sangat tergantung pada impor. Sunflower oil, soybean Oil dan rapeseed Oil, termasuk komuditas yang thin market dipasar minyak nabati dunia, karena volume yang bisa diperdagangkan relatif kecil. Pada tahun 2016, total impor CPO mencapai 7,2 juta ton, diikuti SFO 1,3 juta ton, RSO 300 ribu ton dan SBO 250 ribu ton.

Sumber: PASPI dan GAPKI

Share.