Resolusi Sawit Sulit Diimplementasikan di Uni Eropa (Bagian VII)

Hal ini menunjukan, Faktor yang lebih dominan adalah kebutuhan minyak nabati yang tinggi (excess demand) karena tidak mampu dipenuhi oleh produksi domestik Uni Eropa. Jika dianalisis lebih lanjut, dengan membandingkan harga CPO dengan harga minyak kedele (SBO), harga rapeseed oil (RSO) dan harga minyak bunga matahari (SFO), terlihat bahwa harga CPO secara konsisten lebih murah dibandingkan dengan ketiga sumber minyak nabati lainnya.

Pada tahun 2015 harga minyak kedele sudah mendekati harga CPO, yakni 1,19 dan pada tahun 2017 menurun menjadi 1,09 (semakin mendekati 1), artinya harga SBO dan CPO tidak jauh berbeda. Namun bila dibandingkan dengan harga rapeseed oil, pada tahun 2015 rasio harga RSO/CPO adalah 1,39. Artinya, misalnya dengan uang yang sama, UE dapat mengimpor 1.000 ton rapeseed oil dan hal itu setara dengan 1.390 ton CPO dan Uni Eropa diuntungkan sebanyak 390 ton CPO.

Baca Juga :   Industri Sawit Indonesia Menuju 2050

Demikian halnya denga rasio RSO/CPO tahun 2017, relatif masih cukup besar yakni 1,28. Dengan membeli CPO, UE diuntungkan sebanyak 28 pesen dibandingkan dengan membeli CPO. Rasio harga bunga matahari relatif jauh lebih tinggi, namun proporsi komsumsi Uni Eropa atas  minyak bunga matahari relatif lebih kecil (9%), sedangkan konsumsi rapeseed cukup tinggi dan mencapai pangsa 42 persen dari konsumsi minyak nabati Uni Eropa.

Sumber: PASPI dan GAPKI

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like