PULOSAKTI Mahasiswa UNS Raih Juara Lomba Riset Sawit 2019

PULOSAKTI dirancang sebagai plester luka, kombinasi hydrogel dan minyak ikan sidat dalam sediaan salep yang terpadu dalam produk plester luka.

Alfiyatul Fithri dan Wahyu Puji Pamungkas adalah mahasiswi program studi Kimia peserta Lomba Riset Sawit Tingkat Mahasiswa 2019 perwakilan dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Keduanya, terkejut  setelah mendengar pengumuman dari Tim Penilai, dan dinyatakan sebagai Juara I pada Lomba Riset Sawit Tingkat Mahasiswa 2019. Pengumuman Lomba riset disampaikan langsung oleh Rusman Heriawan Dewan Pengawas BPDP-KS, pada Sabtu (13 Juli 2019) di IPB International Convention Center (IICC), Bogor, Jawa Barat

Riset dengan judul “PULOSAKTI (Plester Luka dari Tandan Kosong Kelapa sawit dan Ikan Sidat) : Plester Inovatif sebagai Pertolongan Pertama Luka” mengantarkan Alfiyatul Fithri dan timnya menjadi pemenang Lomba Riset Sawit tingkat Mahasiswa 2019, yang diadakan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS).

Dengan rasa bangga, Alfiyatul Fithri menceritakan pengalaman selama riset. Di sela-sela mengerjakan skripri, riset PULOSAKTI dilakukan. Kurang lebih satu tahun melakukan riset berjalan membutuhkan kerja keras. “Kami berbagi tugas, sesuai dengan job masing-masing,” ujarnya, saat ditemui usai acara pengumuman Lomba Riset Sawit tingkat Mahasiswa 2019.

Selanjutnya, Fithri mengatakan ide untuk melakukan riset muncul, saat melihat orang luka pada bagian kulit. “Kulit adalah organ terbesar manusia yang rentan luka. Perawatan luka secara konvensional berpotensi infeksi tinggi, lingkungan lembab mempercepat penyembuhan luka, hydrogel sebagai kandidat optimal penyembuhan luka, kondisi tersebut yang mendorong melakukan penelitian” tambah Fithri.

Ia menambahkan, saya melihat riset sawit dari Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) atau tankos bisa digunakan untuk pembuatan hydrogel. Kandungan selulosa yang ada pada tankos sebagai bahan hydrogel menjadi hidrogel sebagai plester luka. “Sebenarnya hydrogel sudah ada di luar negeri dengan kandungan kimia. Kita ingin membuat produk plester luka yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan limbah padat sawit,” jelas Fithri.

Selama ini, tankos dianggap sebagai limbah yang kerap kali hanya digunakan untuk pupuk organik. Padahal banyak potensi salah satunya sebagai penghasil selulosa untuk pembuatan hydrogel.

Wahyu Puji Pamungkas menambahkan sementara kandungan Albumin tinggi didapat dari ikan sidat yang selama ini pemanfataannya belum maksimal. “Ikan sidat menjadi sumber alternatif pengganti Human Serum Albumin untuk mempercepat penyembuhan luka,” jelas Wahyu.

Cara penggunaan plester PULOSAKTI sangat sederhana hanya menempelkan plester pada bagian luka. Namun, yang tidak kalah penting bagian kulit yang luka dipastikan bersih agar tidak terjadi infeksi. Sehingga sebelum menempelkan PULOSAKTI luka dibersihkan dengan air atau alkohol untuk menghilangkan kotoran dan darah.

Efektivitas PULOSAKTI diperoleh dari ujicoba luka pada tikus putih. Kemampuan percepatan penyembuhan luka dengan plester konvensional yang sudah komersial dan gel komersial. Hasil pengujian menunjukkan bahwa PULOSAKTI memiliki kemampuan penyembuhan luka yang sangat baik dan lebih cepat dibandingkan plester konvensional komersial dan gel komersial.

Berdasarkan hasil uji tersebut, PULOSAKTI efektif digunakan sebagai pertolongan pertama pada luka. PULOSAKTI memiliki keunggulan efektif mempercepat penyembuhan luka, ekonomis, ramah lingkungan, nyaman, tanpa bahan kimia berbahaya dan mudah dilepas tanpa melukai kulit.

(Selengkapnya dapat di baca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 93, 15 Juli – 15 Agustus 2019)

2 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like