Prof. Sri Raharjo, Guru Besar Universitas Gajah Mada

Sawit Merah Penangkal Stunting

Minyak sawi tmerah bisa menjadi solusi mengatasi stunting di Indonesia. Di masa pandemic, kandungan fitonutrien di dalam minyak sawit merah seperti tokoferol, tocotrienol, dan karoten sangat bermanfaat untuk meningkatkan sistem daya tahan tubuh (imun).

Prof. Sri Raharjo Guru Besar Departemen Teknologi  Pangan dan Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian  Universitas Gadjah Mada menjelaskan bahwa kandungan fitonutrien di dalam minyak sawit merah atau Virgin Red Palm Oil (VRPO) seperti tokoferol, tocotrienol, dan karoten sangat bermanfaat untuk meningkatkan sistem daya tahan tubuh di kala pandemi. Ketiga unsur fitonutrien ini banyak diapresiasi untuk memperbaiki daya tahan.

Dia mengatakan, minyak sawit bisa dijadikan solusi untuk mengatasi stunting di Indonesia karena anak-anak yang mengalami kekurangan gizi tertentu dan sistem daya tahan tubuh rendah bisa mengkonsumsi minyak sawit tersebut. “Untuk memperbaiki imun tersebut bisa mengkonsumsi minyak sawit merah dari kandungan fitonutrien. Selain itu bisa memperbaiki sistem daya tahan tubuh,” jelas dia.

Untu kitu, penggunaan minyak sawit merah perlu dilakukan edukasi kemasyarakat karena bermanfaat bagi kesehatan. “Sekarang tinggal bagaimana ini dikomunikasikan dan diedukasikan kepada masyarakat atau konsumen bahwa apa yang terdapat di dalamminyaksawitdapatmemberikannilaimanfaatuntukkesehatan dan layakdigunakan,” ujar Sri Raharjo.

 Tiga kandungan fitonutrien di dalam minyak sawit merah seperti tokoferol, tocotrienol, dan karoten perlu mendapatkan perhatian lebih agar bisa diapresiasi pemanfaatannya. “Terutama upaya kita dalam memperkuat imunitas tubuh melalui makanan,” jelas dia.

Dia menyebutkan, makanan yang berpotensi berkontribusi untuk memperkuat sistem daya tahan tubuh adalah minyak sawit merah. “Sering timbul kritik yang bagus di tempat yang keliru, sawit dikatakan sumber lemak jenuh yang dominan. Namun perlu kita pahami keberadaan lemak jenuh pada minyak sawit atau pun di dalam minyak sawit merah bermanfaat untuk kesehatan,” terang Sri Raharjo.

Dia menjelaskan ada dua pendekatan untuk meningkatkan sistem daya tahan tubuh yakni melalui asupan makanan terutama dari komponen vitamin A dan E. Selainitu, pendekatan dengan pembentukan mikro nutrien yang terkonsentrasi alamiah dalam minyak sawit merah dan ini diposisikan sebagai immune boosting.

“Ini dimanfaatkan untuk mereka yang mengalami kekurangan mikro nutrien dalam tubuhnya. Untuk pemenuhannya dipercepat dengan melalui suplemen atau immune boosting,” ujar dia.

Efek mikro nutrien seperti tokoferol memiliki kandungan imun yang cukup banyak, memperbaiki jaringan organ yang rusak dan meningkatkan sel-sel dalam tubuh. “Komponen tokoferol dalam minyak sawit merah bisa meningkatan para meter sistem daya tahan tubuh,” kata Sri Raharjo.

Dia menambahkan, minyak sawit merah itu bisa mencegah penyakit pada hati (liver). “Ini bisa mengurangi dampak buruk penyakit tersebut melalui asupan minyak sawit merah,” ujar dia.

Sedangkan tocotrienol ini bisa menghambat atheroscleroris melalui peningkatan induksi. “Minyak sawit merah dapat meningkatkan anti oksidan dan baik untuk kesehatan,” jelas dia.

Selain itu, kandungan tokoferol dan tocotrienol dapat memperbaiki sistem daya tahan tubuh dan cara yang efektif untuk menghambat kerusakan yang lebih parah pada penyakit alzaimer.

Adapun peran karotenoid dalam kekebalan tubuh karena meningkatkan blast ogenesis limfosit,  populasi subset limfosit spesifik, aktivitas sitotoksik limfosit, dan merangsang produksi berbagai sitokin. Karotenoid juga merangsang kemampuan fagositik dan membunuh bakteri dari neutrofil darah dan makrofag peritoneal.

Dalam kesempatan terpisah, Prof. Sri Raharjo menjelaskan bahwa VRPO juga mengandung asam palmitat yang merupakan lemak jenuh dan salah satu komponen dominan di dalam minyak sawit. Asam palmitat berperan penting dalam memberikan perlindungan terhadap paru-paru yang sehat.

Asam palmitat merupakan komponen utama (sekitar 60 persen) dari senyawa fosfolipida yang melapisi dinding bagian dalam rongga alveoli paru-paru.

Fosfolipida ini berfungsi sebagais urfaktan yang dapat membantu memudahkan pertukaran gas (oksigen dan karbondioksida) dari rongga alveoli kepembuluh darah atau sebaliknya.

“Jika seseorang terinfeksi oleh Covid-19 maka paru-paru menjadi sasaran utamanya. Sel-sel pada alveoli dalam paru-paru yang bertugas menghasilkan fosfolipida menjadi rusak dan tidak mampu memproduksi fosfolipida lagi.”

Ia mengatakan akibatnya proses pertukaran gas dalam rongga alveoli tidak dapat berlangsung secara normal. Dalam kondisi ini penderitaakan mengalami kesulitan bernafas sehingga diperlukan ventilator untuk membantu penderita bernafas,” tutur Sri Raharjo.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 113)

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like