Ketahanan pangan merupakan salah satu visi Indonesia yang ingin diwujudkan pada tahun 2045. Peran masyarakat, salah satunya mahasiswa sangat penting dapat mendorong terwujudnya Indonesia sebagai lumbung pangan dunia. Keterlibatan mahasiswa dan organisasinya penting untuk mendukung gerakan petani milenial.

Prima Gandhi, SP, MSi, Dosen Sekolah Vokasi IPB University dari Program Studi Manajemen Agribisnis menyebutkan bahwa salah satu fokus kebijakan Kementerian Pertanian RI yakni mendorong gerakan petani milenial berorientasi ekspor dapat diwujudkan melalui organisasi mahasiswa (ormawa) di kampus. Terkait dengan jenis ormawa ini dapat bersifat intra dan ekstra kampus. Pendekatan ekstra kampus dalam mendukung misi tersebut sedikit berbeda dengan intra kampus.

Ormawa intra kampus menurutnya dapat mendukung misi ketahanan pangan melalui pemanfaatan lahan kampus untuk produksi pertanian. Mahasiswa juga dapat menargetkan pasar atas komoditas tanaman pangan yang ditanam. “Hal ini bisa dipadukan dengan program kreativitas mahasiswa nanti, misalkan untuk mengolah hasil pasca panennya,” terangnya dalam Webinar Propaktani dengan tema ”Peran Organisasi Mahasiswa dalam Menjaga Ketahanan Pangan Nasional” yang digelar oleh Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian RI, 15/6.

Kegiatan ini menurutnya sangat mungkin dilakukan karena mahasiswa sudah mendapatkan anggaran untuk melaksanakan program kerjanya. “Upaya skala kampus ini sudah dapat memberikan sumbangsih konkrit bagi negara untuk mempertahankan ketahanan pangan agar tidak lagi impor, “ ujarnya.

Menurutnya, penting bagi ormawa untuk awas terhadap permasalahan ketahanan pangan. “Ormawa ekstra kampus misalnya harus lebih karena lebh memiliki nilai bisnis dan sosio-politik.  Contoh praksis di tingkat nasional bisa dalam bentuk kolaborasi pemerintah daerah melalui program budidaya petani milenial. Lahan kampus digunakan sebagai laboratarium maupun etalase ketahanan pangan suatu daerah. Program ini dapat bersifat berkelanjutan karena dapat diteruskan oleh mahasiswa angkatan baru, “ jelasnya.

Lebih lanjut dikatakannya, mahasiswa akan terbiasa mengelola tanaman pangan dari hulu ke hilir akhirnya mendorong terwujudnya gerakan petani milenial. “IPB University juga telah mencoba mengarahkan himpunan profesi mahasiswa untuk menerapkan program seperti ini. Terutama untuk mengembangkan tanaman terlantar bagi komoditas pangan alternatif dan potensial, “ urainya.

Hadirnya program Merdeka Belajar Kampus Merdeka dan Kedai Reka, sebutnya, juga dapat dimanfaatkan untuk mengkolaborasikan industri agribisnis dengan kampus. “Upaya ini dapat dijadikan model kebijakan pengembangan kawasan pertanian walaupun skalanya tidak bisa semasif kabupaten atau kota,”tambahnya.

Ia menambahkan, Setelah lulus, mahasiswa juga dapat memberikan dampak positif serta melakukan transfer ilmu di tempat kelahirannya. Mahasiswa dapat memanfaatkan jaringan ormawanya untuk mengembangkan ekonomi pertanian berbasis korporasi petani. Cara pandang mahasiswa yang sudah dibentuk melalui kegiatan ini akan membentuk mahasiswa lebih mandiri dan tidak bergantung pada oligarki. Bila mahasiswa sudah mandiri, kritisi kebijakan pemerintah akan lebih obyektif.”

Sumber: ipb.ac.id

Share.