Potensi Renewable Energy Berbasis Kelapa Sawit Di Sumatera Utara Untuk Mendukung Pencapaian SDGs 2030

Penulis: Raju Pratama Ritonga (Mahasiswa Universitas Sumatera Utara)

Perkebunan kelapa sawit terus memberikan peran dan kontribusinya dalam pembangunan Nasional. Dalam satu abad, kelapa sawit Indonesia telah berkembang pesat sebagai salah satu penghasil minyak dunia. Melalui revolusioner perkebunan kelapa sawit, Indonesia berhasil menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia. Perkembangan ini telah mengubah perkembangan pedesaan di Indonesia. Secara umum, perkebunan kelapa sawit lebih akomodatif terhadap latar belakang tenaga kerja yang terserap untuk bekerja di perusahaan kelapa sawit. Dalam realitasnya, hadirnya perkebunan kelapa sawit di tengah-tengah kehidupan masyarakat memberikan kontribusi positif terhadap pembangunan daerah tersebut. Saat ini, yang menjadi fokus dalam pengembangan kelapa sawit Indonesia adalah hilirisasi produk. Untuk itu, perlu dilakukan research and development untuk menciptkan inovasi-inovasi terbaru demi kemajuan dunia kelapa sawit di Indonesia.

Penelitian dan pengembangan merupakan komitmen pemerintah untuk meningkatkan kualitas dari segi hilirisasi produk kelapa sawit. Namun, terdapat kendala biaya yang sangat besar dalam mewujudkan program hilirisasi kelapa sawit. Pada tahun 2015, pemerintah memprediksi hilirisasi kelapa sawit untuk produksi oleokirnia membutuhkan investasi US$ 800 juta sehingga kapasitas produksi bisa mencapai 2 juta ton per tahun. Maka dari itu, salah satu opsi menarik yang dapat dipilih untuk kemajuan sektor kelapa sawit adalah melalui penguatan energi terbarukan berbasis kelapa sawit karena memiliki banyak keunggulan dan kebermanfaatan sosial.

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah meluncurkan program Strategic  Exploration of Economics Mitigation Potential Through Renewables (ExploRE) yang diimplementasikan berdasarkan kajian penerapan energi baru dan terbarukan di Indonesia. Melalui kajian teknis, proyek percontohan inovatif, upaya-upaya pengembangan kapasitas serta koordinasi dengan pemangku kepentingan, ExploRE melaksanakan berbagai kegiatan dalam empat output sebagai berikut :

  1. Strategi Penerapan Energi Terbarukan
  2. Instrumen Kebijakan dan Finansial
  3. Inovasi
  4. Pengembangan Organisasi

Salah satu keuntungan utama dari renewable energy adalah energi tersebut dapat diperbarui sehingga dapat berkelanjutan dan tidak akan habis. Proyek energi terbarukan memberikan efek ekonomi bagi sekitar, hal ini dikarenakan sebagian besar proyek energi terbarukan jauh dari perkotaan. Di Provinsi Sumatera Utara, kelapa sawit menjadi komoditas utama yang dibudidayakan oleh perusahaan negara, swasta maupun oleh perkebunan rakyat. Sebagai salah satu daerah penghasil kelapa sawit terbesar, provinsi Sumatera Utara terus berupaya meningkatkan sumbangsih devisa terhadap pembangunan daerah maupun nasional. Data dari GAPKI pada tahun 2018 menyebutkan bahwa terdapat 1,1 juta hektar lahan kelapa sawit dengan produksi perkebunan kelapa sawit hingga 15,8 ton dan produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) 5,5 ton.

Saat ini, Institut Teknologi Bandung bersama dengan Pertamina Research and Technology Center (RTC) telah mengembangkan katalis khusus yang nantinya akan menjadi pendorong diproduksinya green fuel berbasis sawit. Katalis dengan nama BIPN ini diprediksi dapat memproduksi bahan bakar dengan kadar oktan 90 sampai dengan 120, yang dapat disesuaikan dengan kebutuhannya. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah Sumatera Utara tengah berupaya untuk mengembangkan komoditas lokal seperti CPO menjadi green fuel yang memiliki keunggulan setara dengan Solar dan Pertamax. Tentunya pengembangan energi terbarukan ini dapat dijadikan sebagai strategi meningkatkan investasi sektor privat pada energi terbarukan serta menjadi pilar pembangunan ekonomi dan sosial dalam pengembangan energi terbarukan untuk pasokan listrik yang andal, aman, dan berkelanjutan.

Melalui pengembangan energi terbarukan berbasis sawit, maka akan mempercepat tujuan pembangunan sebagaimana tercantum dalam 17 pilar pembangunan berkelanjutan (SDGs) 2030 seperti pilar ke-7 yakni energi bersih dan terjangkau, kemudian pilar ke-8 yakni pertumbuhan ekonomi, serta pilar ke-9 yakni inovasi yang berkelanjutan.

Berdasarkan penjabaran tersebut, dapat kita pahami bahwa kelapa sawit memberikan kontribusi positif terhadap pembangunan ekonomi dan kualitas hidup masyarakat serta pengembangan inovasi di bidang energi yang dapat dimanfaatkan sebagai biofuel sebagai solusi energi masa depan. Contoh lain implementasi proyek energi terbarukan adalah proyek-proyek tenaga surya di Zona Perdagangan Bebas Karimun (FTZ) dan beberapa desa terpencil di Sumatera Utara. Kedepannya pengembangan green biofuel akan terus dilakukan serta akan memproduksi bahan bakar nabati melalui pengolahan crude palm oil untuk meningkatkan nilai tambah dari produksi kelapa sawit di Indonesia khususnya provinsi Sumatera Utara. (*)

(Publikasi Naskah bagian kegiatan  seminar PASPI)

3 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like