Platform Baru SIM-PSR Dan SIM-PPSR (4.0) Membangun Daya Saing Industri Berbasis Sawit Rakyat Berkelanjutan

Oleh : Dr. Ir. Purwadi, MS (Direktur Pusat Sains Kelapa Sawit-Instiper)

 Industri Sawit Sumber Kemakmuran

Indonesia negeri harapan, anugerah Tuhan dengan kelimpahan sumber daya alam yang luar biasa, salah satunya adalah kelapa sawit. Saat ini kelapa sawit menjadi komoditas strategis bagi negara dan sumber kemakmuran petaninya. Kelapa Sawit merupakan komoditas yang berkontribusi terhadap perekonomian nasional dan  mampu meningkatkan kesejahteraan petani di Indonesia sekaligus memakmurkan masyarakat di wilayahnya.

Perkebunan sawit rakyat telah mengangkat keragaan petani berpendapatan rendah menjadi petani berpendapatan menengah dan tinggi. Sampai kapan hal ini bisa berlangsung? Pertanyaan ini menjadi relevan mengingat kejayaan petani komoditas di Indonesia dalam jangka panjang sering tidak bisa berkelanjutan, seperti karet, cengkeh, tembakau, tebu dan lainnya.

Sawit Komoditas Global

Sawit dalam dua dekade ini telah menjadi komoditas global dan penuh dinamika, Indonesia sebagai negara produsen terbesar di dunia, suka atau tidak suka harus mengikuti isu-isu  dan dinamika yang terjadi di persaingan komoditas di pasar global.  Saat ini, setidaknya kita harus menghadapi tantangan kaitannya dengan isu sustainability dan fluktuasi harga. CPO menjadi produk antara untuk industri hilir yang menjadi konsumsi masa (mass consumption). Ini menunjukan bahwa merupakan produk strategis dari komoditas, CPO untuk konsumsi pangan, energi mau pun produk turunan lainnya.

Baca Juga :   Bungaran Saragih: Replanting Sawit Petani Jangan Ditunda

Petani sawit menjadi pelaku utama dalam sistem rantai pasok sistem industri sawit. Namun dalam prakteknya petani menjadi pelaku yang memiliki daya tawar  (bargaining position) terendah. Dalam hal ini, petani harus berhadapan dengan pasar industri input dan mengarah pasar persaingan oligopoli pada saat pemberian input sarana produksi. Pada sisi lain saat menjual hasilnya di pasar out put harus berhadapan dengan pasar oligopsoni.  Petani memiliki daya tawar (bargaining position) yang paling lemah, diapit oleh dua pasar oligopoli dan oligopsoni  dan oleh karenanya bisa terjadi praktek kemitraan yang tidak berkeadilan.

Kelembagaan Petani Sebagai Hal Utama

Untuk mengingkatkan daya tawar petani, petani harus bersatu bekerjasama dalam kelembagaan, dan tidak bisa dilakukan apa bila petani secara sendiri-sendiri. Petani harus membangun kelembagaan (organisasi) petani yang kuat sehingga pada prakteknya petani bisa memiliki daya tawar yang setara (oligopoli-oligopsoni pada pasar in put, dan oligopoli-oligopsoni di pasar out put nya). Hasil akhirnya akan terjadi keseimbangan dan kesetaraan dalam kemitraan strategis dengan harga keseimbangan yang dirundingkan agar saling menguntungkan dan saling membangun efisiensi.

Baca Juga :   Senator Perancis Dukung Penghapusan Pajak Impor Sawit

Kalau hal ini bisa dilakukan maka akan terwujud sistem industri CPO yang efisien, berkeadilan dan berkelanjutan. Secara ekonomi, sustainability is competiveness, sekali lagi daya saing harus diukur efisiensi sepanjang rantai pasok dengan hasil akhir harga pokok produksi CPO yang kompetitif dan sistem pembagian keuntungan yang berkeadilan. Hal ini bisa diwujudkan jika petani bergabung dalam kelembagaan kuat, kredibel dan dapat dipercaya…..   is about trustabout clean and clear.

Program PSR Harus Sukses

Saat ini, Indonesia sedang menyelenggarakan Program Peremajaan Sawit Rakyat. Selama ini program-program diselenggarakan melalui proyek-proyek yang bersifat parsial dan kurang berkelanjutan, biasanya kalau program selesai, semuanya jadi selesai. Namun untuk PSR ini diharapkan kebun-kebun yang diremajakan pada saatnya harus memperoleh sertifikat ISPO. Dengan cara kerja dan model penyelenggaraan program cara-cara lama, apa kah program ini bisa berkelanjutan untuk memenuhi janji sertifikat ISPO.

Baca Juga :   Taat Lingkungan Demi Masa Indonesia

Saat ini pendekatan penyelenggaraan pembangunan seperti itu sudah selayaknya sudah harus berubah. Sebuah pembangunan harus berkelanjutan, sehingga biaya pembangunan akan berdampak pada kesejahteraan jangka panjang bagi penerima manfaat dan berkontribusi dalam perekonomian nasional. Peremajaan sawit rakyat mengalokasikan pembiayaan yang sangat besar dengan target 500.000 hektar dalam 3 (tiga) tahun, dengan menggunakan cara-cara lama dalam penyelenggaraannya maka dampaknya dalam jang kapanjang diragukan, apa lagi kalau penyelenggaraannya lebih fokus untuk mengejar target penyelesaian. Untuk dapat berhasil dengan baik, dibutuhkan cara-cara baru, sistem proses baru, manajemen baru dengan memanfaatkan teknologi baru yang tersedia.

(Selengkapnya dapat di baca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 104)

3 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like