Petani Siap ISPO

Salam Sawit Indonesia,

Petani sawit yang menjadi bagian dari industri sawit berhadapan dengan tuntutan global. Isu sustainability merupakan salah satu permintaan kepada kelapa sawit. Sertifikasi kelapa sawit mulai bermunculan dari yang sifatnya voluntir sampai mandatori. Di Indonesia, pemerintah menerbitkan sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO). Begitupula Malaysia punya Malaysian Sustainable Palm Oil (MSPO). Di pasar global, kita mengenal sertifikasi RSPO dan ISCC.

Semenjak empat tahun terakhir, sudah  banyak kelompok petani yang memahami persoalan sustainability. Kendati jumlah masih sedikit, kesadaran ini mulai muncul. Sederet persoalan menghadapi keinginan pemerintah untuk menjalankan sertifikasi semisal ISPO. Dari aspek persyaratan, petani diminta memenuhi syarat legalitas. Disinilah petani seringkali kesulitan mengajukan sertifikasi. Kendati demikian, para petani tetap optimis sertifikasi seperti  ISPO dapat dijalankan.

Rubrik Sajian Utama mengulas komitmen Mutuagung Lestari untuk membantu sertifikasi ISPO petani. Hal ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Mutuagung Lestari dengan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO). Arifin Lambaga, Presiden Direktur  PT Mutuagung Lestari mengatakan ISPO merupakan standar kelapa sawit yang dikembangkan pemerintah Indonesia untuk pengelolaan minyak sawit berkelanjutan merujuk regulasi dan perundang-undangan yang berlaku. Untuk itu,   Mutuagung berkomitmen membantu petani untuk mendapatkan sertifikasi  ISPO. Sementara itu, Gulat ME Manurung, Ketua Umum DPP APKASINDO menyebutkan Mutu Agung menjadi perusahaan sertifikasi yang terdepan dalam mendukung petani sawit Indonesia. Harapannya, kebun petani yang telah diremajakan sekaligus dapat mengikuti  sertifikasi ISPO.

Dalam Rubrik Hot Issue, kami mengulas turunnya devisa ekspor sawit menjadi US$ 19 miliar pada 2019, dari tahun 2018 yang sebesar US$ 22 miliar. Pada 2020, Joko Supriyono, Ketua Umum GAPKI, menjelaskan tantangan pasar ekspor sawit masih sama berkaitan hambatan dagang di Uni Eropa dan isu negatif. Selain itu, adanya masalah virus di corona di China. Tetapi, ia yakin persoalan ini hanya temporer dan Tiongkok  mampu menyelesaikan masalah ini.

Pembaca,kami berharap edisi ini semakin memperkuat gagasan dan informasi terkait kelapa sawit. Semoga, industri kelap sawit semakin jaya dan masyarakat Indonesia ikut sejahtera. Tabik.

Baca Juga :   Edisi 21 Juli 2013
0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

Edisi 05 Februari 2012

Salam Sawit Indonesia, Beberapa waktu lalu, Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Republik Indonesia, menyatakan pemboikotan perdagangan Amerika Serikat terhadap…

Edisi 48 Oktober 2015

Saatnya Lawan Gerakan Anti Sawit Salam Sawit Indonesia, Tekanan terhadap industri kelapa sawit sudah mencapai klimaks. Penerapan  standar tinggi…

Edisi 08 Juni 2012

Salam Sawit Indonesia!, Sudah menjadi keniscayaan, manusia tidak dapat hidup sendiri di muka bumi sehingga  perlu dibangun hubungan…