Belajar dari persoalan minyak goreng sawit, Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) berupaya naik kelas dari petani TBS (Tandah Buah Segar) sawit menjadi penghasil CPO (Minyak Sawit Mentah). Keinginan petani terus diwujudkan melalui kolaborasi berbagai pihak termasuk perguruantinggi seperti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Direktur Kerjasama dan Pengelolaan Usaha (DKPU) ITS Tri Joko Wahyu Adi ST MT PhD mewakili Wakil Rektor IV ITS Bambang Pramujati ST MSc Eng PhD, menyambut baik tawaran kerjasama inovasi teknologi di ranah minyak kelapa sawit untuk pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), ditambahakan diaplikasikan di wilayah hutan sawit, Kabupaten Pelalawan, Riau. Melihat potensi yang ada, ia menambahkan hal tersebut sejalan dengan perkembangan inovasi di ITS, khususnya di pusat unggulan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).

Lebih lanjut, ITS juga menawarkan untuk mengembangkan riset dan inovasi dengan ranah lebih luas, seperti kota hingga provinsi yang akan didukung dengan 10 laboratorium riset inovasi dan empat klaster industri teknologi yang ada di ITS, yaitu otomotif, maritim, robotika, dan digital kreatif industri. “Jika nantinya akan dilakukan kolaborasi besar, maka diharapkan akan terjadi sebuah perubahan besar bagi dunia dan instansi pendukung petani kelapa sawit,” ujarnya.

“Dilarangnya ekspor CPO pada bulan lalu membuat petani sadar dari keterlenaan, tidak cukup bermain di hulu. Kami harus masuk kehilir,” ujar Dr. Gulat ME Manurung, CIMA, Ketua Umum DPP APKASINDO saat memberikan sambutan secara virtual dalam MoU ITS dengan APKASINDO, Kamis, (2 Juni 2022).

Gulat mengatakan kerjasama dengan ITS ini sangatlah penting untuk membantu petani sawit sebagai bagian persiapan “hijrah” kesektor pengolahan CPO dan produk hilir seperti minyak goreng. ”Harapan kami, ITS memberikan teknologi kekinian agar mendapatkan efisiensi tinggi dalam pengolahan CPO,” urainya.

Apa lagi ITS terkenal dengan keteknikan dibidang perkapalan tentu ada hubungannya dengan sawit petani. Seperti misalnya rencana APKASINDO membangun tangki timbun CPO di beberapa pelabuhan CPO internasional. Keinginan tersebut bukan karena kondisi turbulensi harga TBS hari ini, Rp.1.600/kg, ini sudah makin tidak tentu arah dan lucu disaat harga CPO dunia sudah mencapai Rp.23 ribu/kg, yang seharusnya harga TBS petani diangka Rp.5.500/kg.

Dalam upaya mendongkrak petani naik kelas, APKASINDO telah mengajukan dukungan pembiayaan pembangunan 10 unit pabrik sawit melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

Gulat mengatakan dari10 unit pabrik sawit yang diajukan, telah disetujui 3 unit. Kebutuhan dana pembangunan pabrik sawit sebesar 100 miliar rupiah. Duit sebesar ini tidaklah besar karena menurut catatan kami, petani telah menyumbang Rp 507/kg TBS kami tahun lalu terkumpul Rp 71 Triliun (PE USD 175) dan tahun ini dengan naiknya pungutan ekspor menjadi USD 375/ton CPO, tentu akan tembus 100 Triliun.

“Kami akan sangat fokus memanfaatkan dana tersebut untuk menuju hilirisasi TBS Petani, kami akan pastikan itu karena roh dari berdiirinya BPDPKS adalah salah satu utamanya disitu. Selama ini dana itu hanya lebih “disibukkan” menyumbang untuk B30 dan Subsidi MGS Curah,” jelas Gulat.

“Mohont unjuk ajar dari ITS supaya petani diberikan pengetahuan dan teknologi tepat guna yang efisien bagi pengolahan sawit. Selain dari BPDPKS, petani juga mengalokasikan dana bagi riset aplikatif. Namun, besaran dana ini juga terbatas. Itu sebabnya, dukungan BPDPKS sangat diharapkan sebagai pengelola dana pungutan ekspor,” tambah Gulat.  Sampai saat ini kami melihat, Perguruan Tinggi lebih tulus memikirkan kami petani sawit dan kami akan lebih mendorong itu melalui dana kami di BPDPKS.

Proyek yang akan digarap oleh dosen ITS Prof Setiyo Gunawan ST PhD ini akan mengembangkan pembaharuan teknologi pemurnian minyak goreng dengan metode Batch-wise Solvent Extraction. Metode ini telah terbukti lebih aman dan sederhana karena menggantikan fungsi dan tahapan degumming, neutralization dan bleaching pada metode yang ada saat ini. Tak hanya itu, beban proses deodorisasi lebih ringan karena menggunakan suhu yang lebih rendah untuk operasinya.

Sebagai contoh, dari satu kilogram kelapa sawit akan dihasilkan senyawa free fatty acid (FFA) dan kandungan pengotor lainnya yang akan larut dalam pelarut metanol dan berkumpul pada polar liquid fraction (PLF). Dengan metode Batch-wise Solvent Extraction yang menambah jumlah tahapan proses tersebut, pemurnian minyak goreng sawit dapat meningkat dari 78 persen menjadi 91,46 persen pada tahap satu serta menjadi 98,5 persen pada tahap delapan.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 128)

Share.