Pesan Kepada Keluarga Best Grup: Ingat, Harga Sawit Petani Masih Anjlok

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Seminggu terakhir berita mengenai pernikahan Crazy Rich Surabaya menjadi perbincangan netizen. Kabarnya dana yang dihabiskan untuk pernikahan ini mencapai Rp 1 triliun. Dana dipakai untuk membiayai kegiatan resepsi, suvenir serta tetek bengek lainnya. Sohibul hajat adalah Jusup Maruta Tjayadi anak dari pemilik Best Grup, Rendra Tjayadi.

Best Grup adalah kelompok usaha sawit yang terintegrasi dari hulu sampai hilir yang berdiri semenjak 1980-an. Tak heran, banyak pertanyaan diajukan kepada penulis,”Enak nih diundang taipan sawit” ataupun “Elo, kenal sama pemilik Best Grup?”.

Untuk pertanyaan terakhir, penulis menjawab,”Best Grup cenderung tertutup dan minim informasi positif”. Faktanya memang demikian. Di luar berita heboh ini, sulit menemukan prestasi maupun informasi positif terkait Best Grup.

Kalaupun ada informasi positif berkaitan kunjungan owner Best Grup, Winarno Tjayadi ke Tjajadi Science and Technology (TST), gedung multimedia yang berdiri dilingkungan PT Wana Sawit Subur Lestari 1,Kalimantan Tengah pada Juni 2016. Dalam kunjungan tersebut, Winarno didampingi kedua puteranya: Antoni dan William.

Dari informasi yang diperoleh penulis, Best Grup sejatinya dimiliki Winarno Tjayadi dan Winarto. Sementara itu, Rendra Tjayadi adalah adik mereka berdua.

Di sektor hulu, Best Grup mengelola perkebunan sawit di bawah unit usaha, Best Agro Plantation. Luas perkebunan mereka diperkirakan 200 ribu hektare yang sebagian besar berada di Kalimantan Tengah. Beberapa anak usahanya antara lain PT Wana Sawit Subur Lestari,Sinar Mas Citra, Suryamas Cipta Perkasa, Mekar Alam Fajar Mas, Bahana Era Sawit Tama, dan Karya Luhur Sejati.

Salah satu sumber yang enggan disebutkan namanya meminta penulis untuk menelusuri lahan plasma yang dikelola Best Agro. Disinyalir, lahan plasma yang dialokasikan di bawah 20%, tidak sesuai regulasi pemerintah. Ketika penulis menelusuri website best agro tidak ada penjelasan detil komposisi luas perkebunan perusahaan (inti) dan petani plasma. Namun demikian sekitar 2016, Komisi IV DPR dipimpin Daniel Johan pernah melabrak perusahaan.

Kala itu, Daniel mengkritik anak usaha Best Agro karena masuk kawasan yang dilindungi yaitu Taman Nasional Sabangau (TNS). “Saya bingung, kok tidak ada hak guna usaha (HGU), tidak ada AMDAL kok ada pabrik, lalu menabrak kawasan sampai total 80 ribu hektar, lalu tidak ada plasma 20%. Ini belum ngomong legalitas yang lain, lalu tidak bayar kewajiban pajak hanya karena tidak clear luasan ijinnya, berapa kerugian negara dan Kalteng dalam hal ini,” ujar Daniel seperti dilansir dari laman borneonews.com.

Sumber utama pendapatan Best Grup berasal produk hilir sawit. Bagi pemain sawit, sektor hilir menghasilkan margin lebih tinggi 30%-40% daripada hulu. Produk turunan sawit yang dihasilkan Best Grup antara lain Olein, minyak goreng, shortening, palm wax, dan margarine.

Informasi yang penulis peroleh bahwa Rendra Tjayadi diserahkan tanggung jawab mengelola bisnis turunan sawit Best Grup. Refineri perusahaan berada di Medan dan Surabaya.

Dari cuan sawit inilah, sohibul hajat pernikahan mampu menghadirkan artis berkelas dunia. Mulai dari Calum Scott sampai Michael Learns To Rock, ada pula artis lokal seperti Shanty.

Ditengah glamornya pesta pernikahan. Tampaknya, keluarga besar Best Grup lupa bahwa petani sawit sedang merana. Anjloknya harga sawit juga terjadi di Kalimantan Tengah. “Harga sawit petani dihargai Rp 600-Rp 750 per kilogram. Tiga bulan terakhir, harga terus merosot,” kata Setiana, Petani Sawit di Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

Setiana menyebutkan semua pabrik memberikan harga yang rendah termasuk Best Grup. Harga TBS yang rendah dipengaruhi harga sawit di pasar global.”Kami juga dengar berita (pernikahan) itu. Sangat disayangkan apalagi harga lagi rendah seperti sekarang,” kata Setiana.

“Dengan harga sekarang, keuntungan petani sangatlah minim. Paling bagus dapat untung Rp 100 per kilogram. Belum lagi, kami harus biayai anak sekolah,”tambah Setiana.

Menanggapi pernikahan mewah ini, Dato Sri Tahir, pengusaha ternama, memberikan tanggapan bijak. Menurutnya, pengusaha sebaiknya membuat kegiatan yang tidak memperlebar jurang kemiskinan.

Tahir meminta pengusaha bisa membantu pemerintah untuk bisa mengurangi jumlah kemiskinan yang ada, bukan justru memperlebar jurang si kaya dan si miskin.”Kita ini pengusaha, fakta kita itu (keturunan) minoritas, tahu diri lah. Jangan memperlebar jurang kemiskinan dan kekayaan,”ujarnya seperti dilansir dari laman detikfinance.

Untungnya, keluarga mempelai telah mengumumkan pemberian bantuan Rp 1,2 miliar kepada korban gempa Palu.

Yang kita tunggu, maukah Best Grup membantu petani sawit di Kalteng ketika harga rendah seperti sekarang? Atau meningkatkan program CSR bagi masyarakat setempat? Kita lihat tahun depan.

Artikel ini sengaja dipublikasikan setelah resepsi pernikahan usai, Sabtu (1 November 2018). Karena, penulis menghargai suasana batin dan kebahagiaan Mas Jusuf Maruta dan Mbak Clarissa. Selamat berbahagia.

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like