Pertama Kali,Petani Bangun Pabrik Sawit di Kalsel

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Impian petani membangun pabrik sawit telah terwujud untuk meningkatkan kesejahteraan dan penghasilan petani. Adalah Koperasi Sawit Makmur yang mendirikan pabrik sawit berkapasitas olah 45 ton TBS per jam di Desa Tajau Mulya Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan.

“Kami mengapresiasi pembangunan pabrik sawit ini karena sangatlah tepat di saat petani kesulitan menjual panennya,” kata Bupati Tanah Laut Sukamta saat peletakan batu pertama pabrik sawit, Senin (5 Agustus 2019).

Hadir dalam acara ini Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Ir. Dedi Junaedi, M.Sc , Asisten Bidang Administarsi Umum Setda Provinsi Kalsel H. Heriansyah, M.Si, Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), Gulat ME Manurung, Ketua Koperasi Sawit Makmur Samsul Bahri, Perwakilan dari PT Batu Gunung Mulia Putra (BGMP) Angga Yuda Prasetia, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah ( Forkopimda) Tanah Laut, serta anggota dan jajaran DPW APKASINDO Kalimantan Selatan.

Sukamta mengatakan kepemilikan pabrik sawit ini akan membantu petani swadaya supaya tidak bergantung kepada pabrik sawit swasta. Selama ini, banyak pabrik sawit swasta yang mengutamakan hasil panen dari kebun inti dan plasma milik mereka daripada petani mandiri.

“Petani kita (swadaya) tidak bisa memaksa ke PKS swasta. Apabila punya PKS mandiri maka petani akan memproses hasil panennya di pabrik milik sendiri,” jelas Sukamta.

Investasi pabrik sawit senilai Rp 230 miliar untuk digunakan bagi pembangunan pabrik, komplek perumahan, jalan dan infratruktur penunjang lainnya. Kapasitas olah pabrik mencapai 45 ton TBS per jam yang dapat ditingkatkan menjadi 60 ton per jam.

Jangka waktu pembangunan pabrik akan butuh waktu setahun. Pembangunan dimulai dari April 2019 yang ditargetkan selesai Juni 2020 mendatang.

Skema kerjasama antara Koperasi Sawit Makmur dengan PT Batu Gunung Mulia Putra Agro (BGMPA) dalam bentuk 70% dipegang oleh PT BGMPA dan 30% dipegang oleh Koperasi. Selain itu, kepemilikan saham koperasi akan bertambah menjadi 40% setelah pabrik sudah mencapai balik modal (BEP).

Angga Yuda Prasetia, Perwakilan PT. BGMP mengucapkan apresiasi tinggi kepada Petani KUD Sawit Makmur sebagai mitra dalam pembangunan kebun kelapa sawit ini. “Sebagai perusahaan lokal, kami akan membuat yang terbaik untuk suksesnya pembangunan pabrik sawit ini,” jelas Angga.

Ketua Koperasi Sawit Makmur Samsul Bahri mengatakan bahwa Pabrik Kelapa Sawit tersebut, dibangun dengan alasan untuk mensejahterakan para petani kelapa sawit mandiri, pasalnya saat ini nasib para petani sangatlah memprihatinkan.

Samsul Bahri menjelaskan alasannya bermitra dengan PT BGMP karena sudah tiga tahun mencari investor, namun tidak juga membuahkan hasil. Termasuk mengajukan usulan pendanaan dengan BPDP-KS (Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit).

“Kami mengajukan pembiayaan kepada BPDP tetapi memberikan janji saja. Dana Sarpras (red-sarana dan prasarana) yang menjadi program tidak jelas ujungnya. Padahal dana pungutan sawit itu sekitar itu 45% bersumber dari petani juga,” jelasnya.

Koperasi Sawit Makmur Bermitra dengan PT Batu Gunung Mulia Putra Agro meNDIRIKAN pabrik sawit berkapasitas olah 45 ton TBS per jam di Desa Tajau Mulya Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan.

Ia menjelaskan bahwa petani mandiri sudah beroperasi para petani kelapa sawit mandiri tidak akan bingung lagi untuk menjual buah kelapa sawit mereka. “Kita akan mewujudkan harga buah sawit berkeadilan dan kesejahteraan petani kelapa sawit mandiri di Kalsel khususnya Kabupaten Tanah Laut,” ujarnya.

Dr. Ir. Bayu Krisnamurthi, Dewan Pembina DDP APKASINDO dalam sambutannya mengatakan kerjasama kemitraan antara dua pihak ini menjadi sejarah baru industri kelapa sawit di Indonesia. Kerjasama imi menjadi contoh bagi 22 Provinsi DPW APKASINDO di seluruh Indonesia supaya bisa melayani anggotanya melalui pabrik sawit petani swadaya. Kedua, tahun 2025 Kalimantan akan menjadi penghasil TBS terbesar di Indonesia dan Kalimantan Selatan akan menjadi Provinsi paling strategis dalam industri kelapa sawit ini.

Yang ketiga, kata Bayu, industri Sawit Indonesia mendapat kritikan dari Eropa sebagai penghasil tanaman kedelai dan rapeseed. Untuk itu, petani sawit harus ikut mengkampanyekan sawit melalui pendidikan dini kepada semua lapisan masyarakat di Indonesia.

Gulat Manurung, Ketua Umum DPP APKASINDO yang hadir dalam peresmian pabrik menyambut baik berdirinya pabrik sawit ini karena akan menciptakan nilai tambah bagi kegiatan petani.

“Saya berharap dengan dimulainya pembangunan pabrik ini akan menjadi catatan sejarah bagi Petani Indonesia, dan 22 provinsi penghasil sawit di Indonesia terarah perhatiannya ke Kabupaten Tanah Laut karena berhasil bermitra dengan PT GBMPA. Terimakasih kepada Bupati Tanah Laut yang secara penuh dukungan kepada Koperasi Sawit Makmur untuk mencapai harapan dan cita-cita petani memiliki pabrik sendiri,”pungkasnya menutup pembicaraan

2 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like