Penyerapan Rendah, Konsumen di Eropa Belum Akui Sertifikat RSPO

Dr. Tungkot Sipayung mengungkapkan rendahnya penyerapan minyak sawit bersertifikat sekitar 36% menandakan RSPO belum sepenuhnya diakui pasar global.

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Dr. Tungkot Sipayung, Direktur Eksekutif PASPI, membuat sejumlah evaluasi atas keberterimaan certified sustainable palm oil (minyak sawit bersertifikat) khususnya RSPO. Terjadi ketidakseimbangan antara produksi dan penyerapan. Akibatnya, over suplai minyak sawit bersertifikat terus meningkat.

“Sekitar 36% minyak sawit bersertifikat RSPO terserap pasar. Katanya, konsumen di Eropa menginginkan minyak sawit bersertifikat. Lalu, RSPO dinilai representative dari konsumen Eropa. Faktanya, besarnya produksi minyak sawit bersertikat tidak diikuti dengan penyerapan pasar,” ujar Tungkot dalam webinar yang diadakan Instiper Yogyakarta, Selasa (24 Agustus 2021).

Menurut Tungkot, data penyerapan sertifikat RSPO ini menunjukkan anomali. Lantaran, konsumen Uni Eropa belum mengakui RSPO merujuk dari penyerapan.

“Ini pertanyaan menggelitik bagi kita apabila melihat penyerapan ini. Tentu masalah ini juga menjadi tantangan bagi sertifikat ISPO di masa depan. Saya belum tahu sejauh mana keberterimaan ISPO di pasar global,” urai Tungkot.

Masalah lain dari sertifikat RSPO adalah gerakan anti palm oil membuat persepsi negatif sawit meningkat. Dijelaskan Tungkot, awalnya sertifikat keberlanjutan dapat menetralisir persepsi negatif sawit di Eropa. Ternyata persepsi negatfi sawit di Eropa terus meningkat dari aspek kesehatan dan lingkungan.

“Berarti sertifikasi keberlanjutan RSPO anomali dengan perspektif negatif di sawit. Artinya, sertifikasi ini belum mampu meminimalisir imej negatif di Eropa,” beber lulusan S-3 IPB ini.

Kenapa ini bisa terjadi? Menurut Tungkot, ada kontribusi dari masalah kebijakan sawit di dalam negeri. Di satu sisi, industri sawit Indonesia menghasilkan sustainable palm oil. Namun di sisi lain, dikatakan perkebunan sawit rakyat sekitar 30% di kawasan hutan. Jelas, klaim kawasan hutan ini kontraproduktif dengan usaha penerapan sawit berkelanjutan.

“Masih banyak LSM kita menjelekkan sawit di dalam negeri. Akibatnya membentuk persepsi negatif di pasar global seperti Eropa. “Kita capek-capek melakukan sertifikasi. Biayanya besar.Tetapi dijawab konsumen dengan persepsi negatif di Eropa,” paparnya.

9 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like