Pengendalian Kumbang Tanduk Gunakan Beragam Teknik

Pengendalian kumbang tanduk sebaiknya menggunakan beragam teknik dan strategi. Kegiatan peremajaan sawit harus dilakukan dengan benar untuk mencegah serangan kumbang tanduk.

Bagi pekebun kelapa sawit, kehadiran kumbang tanduk di lahan budidayanya menjadi momok tersen diri dan harus dikendalikan. Pasalnnya, kumbang tanduk dengan nama lain Oryctes rhinoceros jika tidak dikendalikan akan menyebabkan dampak ekonomis dan kerusakan lingkungan.

Kumbang tanduk adalah jenis kumbang yang tersebar luas di Asia Tenggara dan termasuk terbesar di dunia aktif pada malam hari, biasanya menempel pada pucuk daun, menyerap cairan dan merusak jaringan daun yang masih muda.

Secara fisik tubuh kumbang terbagi menjadi tiga bagian kepala, dada dan perut. Berwarna cokelat gelap sampai hitam mengkilap dengan panjang 35-50 mm dan lebar 20-33 mm dengan satu tanduk menonjol pada bagian kepala. Pada bagian tengah terdapat enam kaki dan dua pasang sayap.

Kumbang jantan memiliki tanduk lebih panjang dari pada kumbang betina. Kumbang jantan dapat dibedakan lebih akurat dengan ujung ruas abdomen (perut), semantara kumbang tanduk betina memiliki rambut.

Baca Juga :   2020, GAPKI Targetkan Anggotanya Bersertifikat ISPO

Kumbang tanduk betina bertelur dan berkembang biak di berbagai tempat antara lain tempat sampah, daun-daun yang telah membusuk, daun-daun yang telah mengering dan cercahan sampah kayu dari palem, pupuk kandang atau kompos batang kelapa yang telah membusuk, dan serbuk kayu yang dekat dengan pohon kelapa.

Data dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) menyebutkan batang kelapa sawit dan kelapa yang membusuk adalah tempat terbaik untuk hidup larva kumbang tanduk. Seekor kumbang betina mampu bertelur sebanyak 35-75 butir atau lebih.

Larva kumbang tanduk berwarna putih kelabu. Siklus hidup kumbang tanduk bervariasi tergantung pada habitat dan kondisi lingkungan, iklim kering dan kondisi sedikit makanan akan merusak perkembangan larva yang hanya bertahan selama 14 hari.

Kumbang ini mempunyai mandi bula (sepasang bagian mulut yang digunakan baik untuk menggigit atau memotong dan memegang makanan) yang kuat dan cocok untuk melubangi pohon. Biasanya ketika mereka menemukan kelapa yang sesuai akan mulai merusak tanaman tersebut. Kumbang tanduk merusak tanaman kelapa dengan cara menggali kepusat pucuk tanaman (titik tumbuh) dengan kaki mereka (tarsi) yang memiliki barisan duri yang tajam.

Baca Juga :   Kebijakan Nasional dalam Industri Sawit Menuju Ekonomi Indonesia pada Urutan 10 Besar Dunia (Bagian XIV)

Kumbang merupakan serangan yang memiliki jumlah spesies yang paling banyak di antara serangga lainnya. Kumbang tanduk termasuk hama kelapa sawit oleh sebagian orang. Biasanya menyerang tanaman kelapa sawit yang baru ditanam sampai tanaman remaja. Pada area replanting (peremajaan) kelapa sawit serangan kumbang dapat mengakibatkan tertundanya masa berproduksi sampai satu tahun dan tanaman yang mati dapat mencapai lebih dari 25%.

Dr. Agus Susanto, Peneliti Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) menjelaskan bahwa hama kumbang tanduk yang menyerang kelapa sawit terbagi dua jenis. Pertama, sering dijumpai di perkebunan kelapa sawit adalah Oryctes rhinoceros (kumbang tanduk). Kedua, kumbang xylotrupesgideon yang juga menyerang kelapa sawit, namun dijumpai di beberapa daerah saja seperti Jawa Barat. (Majalah Sawit Indonesia, 2016).

Selain itu, umur kumbang betina lebih panjang dari kumbang jantan. Kumbang memiliki masa hidup sekitar 6-9 bulan. Kumbang tanduk berkembang biak pada saat kumbang matang secara seksual. Kumbang betina meletakkan telur pada bahan-bahan organik seperti tumpukan tandan kosong, sisa chipping dan batang tanaman yang telah diracumatau terserang Ganoderma. Selain itu, penanaman mucuna juga dapat mempercepat terjadinya pelapukan bahan organik yang mendukung proses perkembangan larva Oryctes.

Baca Juga :   Ada Intervensi Pihak Asing Dalam Pembahasan Perpres ISPO

Kumbang Oryctes aktif pada malam hari dan mampu terbang hingga 400 meter. Ketika hujan oryctes jarang aktif terbang. Menurut Agus, kumbang menyerang pada bagian daun pada saat daun masih berbentuk daun tombak. Ini sebabnya pada saat daun membuka, daun akan membentuk huruf V, terbalik. Selain itu, Oryctes juga menyerang umbut atau titik tumbuh yang dapat mematikan tanaman. Dalam beberapa kasus tanaman yang selama takan mengalami perpindahan titik tumbuh dan pertumbuhan daunnya akan berputar, sehingga perlu disisip. Untuk tanaman yang selamat akan mengalami masa stagnasi selama beberapa bulan.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 104)

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like