PALU, SAWIT INDONESIA, Pelatihan petani sawityang diikuti 34 peserta dari Kabupaten Morowali mendapat sambutan positif dari pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah.Pernyataan itu, disampaikan oleh Dr. Simpra Ulit Tajang, M.Si, Kabid Produksi dan Perlindungan Tanaman Perkebunan, Dinas Perkebunan dan Peternakan Sulawesi Tengah.

Dikatakan Simpra, peserta (petani sawit) sangat antusias mengikuti pelatihan dengan materi Pengelolaan Sarana dan Prasarana Perkebunan Kelapa Sawit yang dipandu oleh mentor/narasumber yang kompeten di bidangnya. Kegiatan pelatihan ini diadakan selama empat hari (4 – 7 Juli 2022), di salah satu hotel, di kota Palu, Sulawesi Tengah.

“Meski kami melihat peserta (petani sawit) semangat mengikuti kegiatan pelatihan.Tetapi saya berpesan, jangan sampai dari tidak tahu menjadi tahu, tapi sampai rumah masing-masing materi (ilmu) yang didapat lupa sehingga tidak bisa mengaplikasikan di kebun,” ujarnya usai membuka kegiatan pelatihan petani sawit mewakili Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan, Provinsi Sulawesi Tengah, IrMaya Malania NoorMT, pada Senin (4 Juli 2022).

“Seharusnya dengan mengikuti kegiatan pelatihan, peserta dari tidak tahu menjadi tahu dan mampu mengaplikasikan di kebun.Itu yang kami harapkan dari peserta yang mengikuti kegiatan pelatihan dengan materi sarana dan prasarana pendukung pengelolaan perkebunan kelapa sawit,” imbuhnya.

Selanjutnya, Simpra mengatakan pihaknya juga melihat kegiatan pelatihan petani yang mendapat dukungan dana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS)dengan melibatkan lembaga-lembaga pendidikan yang memiliki instruktur dengan skill di bidangnya, salah satunya AKPY-Stiper.

“Instruktur atau narasumberyang ditugaskan menyampaikan materi sangat mumpuni di bidangnya.Selain itu, pelatihan dikemas dan didukung dengan metode yang baik dan inovatif sehingga peserta tidak merasakan jenuh selama mengikuti kegiatan,” ucapnya.

Dari informasi yang didapat SawitIndonesia.com, ada hal menarik dalam pelatihan yang diikuti 34 petani sawit dari Kabupaten Morowali. Untuk menjaga konsentrasi peserta agar tetap fokus mengikuti pelatihan, AKPY-Stiper selaku lembaga pendidikan tinggi yang dipilih BPDPKS untuk memberikan pelatihan, melibatkan motivator. Yang dihadirkan khusus untuk mengisi sesi penyegaran(ice beraking) yang dikemas dengan game-game selama pelatihan.

Sesi ini, disampaikan disela-sela pelatihan, di antaranya di waktu awal sebelum sesi materi, dengan game Ice Breaking tujuannya untuk mencairkan suasana antar peserta dan narasumber dengan permainan Spirit Eightagar meningkatkan konsentrasi peserta dalam mengikuti kegiatan. Selama sehari (pelatihan) ada 5 sesi penyegaran yang diisi dengan game-game(permainan).

Terkait hal itu, Simpra menyampaikan kegiatan pelatihan kali ini sangat inovatif karena menggunakan metode yang sangat baik sehingga mudah dipahami oleh peserta. Peserta juga sangat rileks mengikuti setiap sesi materi karena ada sesi penyegaran dengan permainan.

“Biasanya, petani yang biasa kerja di kebun dipaksa harus dudukberjam-jam mendengarkan orang ngomong tidak betah dan jenuh. Tetapi, pada pelatihan kali ini peserta dengan baik mengikutikegiatan. Mudah-mudahan apa yang disampaikan narasumber diterima dengan baik karena suasananya sangat cair,” katanya.

“Kami (Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Sulteng) sangat berharap kegiatan pelatihan petani sawit ke depan bisa diadakan secara berkesinambungan.Dan jumlah pesertanya lebih banyak tidak hanya dari Kabupaten Morowali, melainkan dari Kabupaten-kabupaten lainnya,” imbuh Dr. Simpra.

Berkenaan dengan inovasi metode penyampaian materi pada peserta, Direktur AKPY-Stiper, Dr. Sri Gunawan, S.P, M.P, IPU mengutarakan pesertanya petani beda dengan mahasiswa. Petani biasa aktivitas di kebun (ruang terbuka) kalau duduk lebih dari dua jam akanmerasakan jenuh. Apalagi penyampaian materi monoton akan cepat jenuh.

“Maka, kami menggunakan kolaborasi metode ceramah, diskusi dan tanya jawab serta ditambahkan ice breaking (sesi penyegaran) dengan menghadirkan motivator profesional. Fungsi motivator inimenyampaikan permainan (game) yang related dengan materi yang disampaikan narasumber. Tujuan dari ice breaking tak lain agar peserta tidak cepat jenuh selama mengikuti pelatihan, sehingga akan tetap semangatmenerima materi yang disampaikan narasumber,” ujar Sri Gunawan.

“Dari pengalaman-pengalaman pelatihan petani sawit sebelumnya yang kami lakukan di berbagai daerah, menjaga konsentrasi peserta menjadi hal penting yang harus dilakukan. Maka kami mencari metode lain agar peserta tetap konsentrasi dan semangat selama di kelas, salah satunya dengan metode permainan game yang biasa digunakan di kegiatan outbond, berbagai permainan diberikan di sela-sela break materi. tujuannya agar peserta tetap konsentrasi dan semangat menerima materi,” pungkas Dr. Sri Gunawan.

Seperti diketahui, pelatihan petani sawit merupakan sinergi lembaga pendidikan tinggi (AKPY-Stiper), BPDPKS dan Direktorat Jenderal Perkebunan – Kementerian Pertanian yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia perkebunan kelapa sawit (SDMPKS).

Share.