Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menyatakan kini seluruh dunia sedang berupaya bangkit di tengah kondisi yang tidak pasti akibat pandemi Covid-19. Perubahan ilklim, disrupsi teknologi, adaptasi regulasi yang kalah cepat dari gerak inovasi teknologi, hingga inflasi menjadi tantangan besar bagi masyarakat global.

“Pandemi Covid-19 mendisrupsi semua hal yang sebelumnya tidak pernah kita kira. Kita rasakan langkanya energi, kenaikan harga pangan, kemudian kelangkaan kontainer dalam mengirim logistik yang ada, dan terjadinya kenaikan inflasi hampir di semua negara sehingga rakyat kesulitan dalam menjangkau harga-harga yang naik,” tutur Joko Widodo saat membuka Sidang Inter-Parlimentary Union (IPU) ke-144 di BICC, Nusa Dua, Bali, Minggu (20/3/2022).

Dalam rangkaian acara parlemen sedunia yang bertajuk ‘Getting to Zero: Mobilizing Parliament to Act on Climate Change’, ia menekankan satu isu yang tidak kalah penting yakni perubahan iklim. Menurutnya, isu perubahan iklim sudah sangat sering dibicarakan di dalam pertemuan-pertemuan global, namun aksi nyata belum terasa bagi masyarakat dunia.

“Jangan lupakan kita menghadapi sebuah hal mengerikan.  Kalau kita tidak berani memobilisasi kebijakan-kebijakan, baik itu di parlemen maupun di pemerintah, yaitu adalah perubahan iklim. Hal yang sering kita lakukan, sering kita bicarakan, sering diputuskan di dalam pertemuan-pertemuan global, tetapi aksi lapangannya belum kelihatan,” ungkap Presiden.

Lebih lanjut, ia menyampaikan contoh transisi energi dari energi fosil ke energi baru terbarukan yang tampak mudah namun pada praktiknya sulit, terutama di negara-negara berkembang. Oleh karena itu, dirinya mendorong semua pihak memobilisasi pendanaan iklim. Tanpa pendanaan tersebut dampak perubahan iklim akan sulit untuk diantisipasi.

“Ini harus segera kita selesaikan. Seperti, investasi dalam rangka renewable energy. Kemudian yang yang berkaitan dengan transfer teknologi. Kalau ini tidak riil dilakukan, sampai kapan pun saya pesimistis bahwa yang namanya perubahan iklim ini betul-betul tidak bisa kita cegah,” tegasnya.

Ia pun menyebutkan Indonesia memiliki potensi besar energi baru terbarukan, mulai dari potensi energi hidro dari 4.400 sungai, potensi energi geotermal sebesar 29 ribu megawatt, tenaga angin, arus bawah laut, hingga energi matahari yang melimpah. Namun, semua potensi energi tersebut harus didukungan berupa investasi besar, transfer teknologi, dan pendanaan.

“Saya sangat menghargai apabila seluruh parlemen yang ada di negara-negara anggota IPU bisa memobilisasi bersama-sama dengan pemerintah sehingga muncul sebuah keputusan, muncul sebuah aksi yang betul-betul nyata dan konkret sehingga bisa dilaksanakan di lapangan,” tandas Presiden Joko Widodo.

Turut hadir dalam acara tersebut antara lain Ketua DPR RI Dr. (H. C.) Puan Maharani, Ketua Mahkamah Konstitusi Anwar Usman, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Presiden IPU Duarte Pacheco, Sekretaris Jenderal IPU Martin Chungong, para Ketua Parlemen Anggota IPU, dan delegasi negara-negara anggota IPU.

Sumber: dpr.go.id

Share.