Pekerja Indonesia Tak Lagi Minati Perkebunan Sawit Malaysia

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Pekerja Migran Indonesia berkurang minatnya untuk bekerja di perkebunan sawit Malaysia. Sebab, pendapatan dan kesejahteraan perusahaan sawit Indonesia sudah lebih baik sehingga memilih untuk bekerja di perkebunan sawit dalam negeri.

“Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah tenaga kerja Indonesia di perkebunan sawit Malaysia telah berkurang. Ini bukan semata-mata kebijakan lockdown. Melainkan jauh sebelum pandemi lantaran minat masyarakat kita berkurang. Di Sarawak, jumlah pekerja di perkebunannya hampir 80 persen dari Indoensia,” ujar Tofan Mahdi, Ketua Bidang Komunikasi GAPKI saat berbicara dalam program Squawk Box, CNBC Indonesia Rabu (9 Juni 2021).

Tofan menjelaskan bahwa pekerja migran memilih bekerja di Indonesia karena melihat insentif dan remunerasi perusahaan sawit di Indonesia jauh lebih baik dibandingkan satu dekade lalu.

“Di Indonesia, besaran pendapatan lalu insentif, remunerasi dan fasilitas yang diterima sudah jauh lebih baik,” ujarnya.

Itu sebabnya, banyak tenaga kerja di Indonesia berpikir dua kali untuk kembali ke perkebunan sawit di Malaysia.

“Jadi, tidak semata-mata disebabkan pandemi dan kebijakan lockdown sehingga mengakibatkan shortage tenaga kerja. Jadi, melihatnya harus lebih panjang,” jelasnya.

Sampai hari ini, Tofan  belum memperoleh data resmi produksi sawit di Malaysia pasca kebijakan lockdown diberlakukan. Tapi harus dilihat sampai berapa lama lockdown berjalan. Dari situ akan dilihat lagi jumlah produksi mereka. ”Dampak dari kebijakan lockdown belum terlihat pengaruhnya kepada produksi Malaysia,” ujarnya.

September 2020, dilaporkan industri sawit Malaysia kekurangan tenaga kerja sampai 36 ribu orang. Sebagai gantinya, industri sawit meminta narapidana dan pasien rehabilitasi narkoba untuk bekerja di kebun.

Produksi sawit di Indonesia dan Malaysia berkontribusi 80% kepada pasokan minyak nabati dunia. Kedua negara ini pemegang pangsa pasar terbesar. Jumlah produksi sawit di Indonesia mencapai 52 juta ton sampai 2020.  Sementara Malaysia, produksinya sekira 20 juta ton.

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like